Pamer masih lebih baik dari pada iri hati

    Di atas motor yang sedang jalan, aku berkendara, tepatnya di lampu merah yang aku sendiri tidak tau nama tempatnya, tapi bukan itu yang membuatku bingung, aku bingung kepada aku yang merasa benar padahal salah.

    Pada semua jejaring sosial yang ada di henponku, yang sering kuperhatikan saat lampu merah, aku mulai merasa tidak suka dengan segala bentuk kepameran, entah memamerkan pacar, memamerkan mobil, atau memamerkan kerendahan hati itu sendiri.

    Pada dasarnya mungkin kecendrungan ketidaksukaan terhadap pamernya seseorang karena aku tidak begitu. Tapi aku mulai merasa, lantas haruskah semua orang yang tidak sepertiku harus ku benci? Tentu jawabannya adalah tidak. Tapi itu yang sering ku lupakan, aku cendrung membenci orang terlebih dahulu, barulah demikian berpikir.

    Dengan pamernya seseorang, apakah ia merenggut kebahagiaanmu? Pasti pun jawabannya adalah tidak. Ini lah kenapa aku merasa bahwa dengan merasa tidak suka terhadap orang pamer, sifatku justru lebih buruk dari pamer itu sendiri. Karena dengan jelas-jelas aku tidak suka melihat kebahagiaan orang lain.

    Semoga lain kali dan kedepannya tidak lagi begitu.

Laki-laki Adalah Pengemudi (Surat Untukmu)

Di sekeliling kita sudah banyak yang begitu, semoga kita tidak. Ya, kita saling sepakat untuk tidak begitu, kamu jaga dirimu, aku jaga diriku. Atau kita balik saja, aku jaga dirimu, kamu jaga diriku? Tapi itu tak cocok, lebih baik yang pertama saja.

Di luar sana, banyak laki-laki yang tak bertanggung jawab, mungkin saja nanti aku pun salah satunya. Tapi sebelum itu terjadi, aku ingin mencegahnya. Ya, mencegah hanya bisa dilakukan sebelum semuanya terjadi, oleh karena itu aku sedang menjadi laki-laki yang berusaha mencegah keburukanku sendiri.
Aku pernah bilang, kamu pernah dengar, yang kataku "Wanita akan jadi baik tergantung lelakinya baik atau tidak", Ya, menurutku banyak wanita baik-baik jadi rusak karena ulah kaumku (kaum laki-laki). Dan kamu tidak setuju dengan pendapatku, lalu bilang "Kalau wanita baik, akan tetap bisa jadi baik, kan dia bisa jaga diri". Tapi itu pendapatmu tahun lalu, sekarang kamu percaya apa kataku, setelah bukan ucapanku yang meyakinkanmu, melainkan orang-orang disekitar kita.

Kamu lihat sendiri, dan memberitahukannya padaku, padahal aku belum tahu... *sebagian text telah dihapus, dengan maksud tidak menyinggung siapapun*



***



Di sore hari yang cerah, kamu jadi lesu. Ya, kamu mengerti sebagai wanita, dan tidak bisa membayangkannya jika terjadi padamu, kamu jadi takut, takut bahwa kenyataannya aku adalah laki-laki yang tak pernah bilang padamu bahwa aku laki-laki yang baik.

Karena menurutku apa yang ku katakan hanya boleh kamu dengar, sedang yang harus kamu percayai adalah perbuatan.



***



Di pertigaan jalan menuju ke rumahmu, aku jatuh. Ya, jatuh dari motor mio berplat B6107UKE, motor yang sering memboncengi pantatmu maka dari itu bannya sering bocor. Tapi bukan itu penyebab jatuhku, bukan pula keadaan sekitar yang membuatku terjatuh. Tapi aku sendiri. Aku jatuh karena ngantuk.

Menurutku ini sama saja. Ya, andai saja kamu yang sedang aku boncengi, dan kita sedang dalam perjalanan, maka aku yang memegang stir, kamu peneman saja, agar aku tak sendiri. Lalu kamu mulai mengerti, jika aku pengemudi yang tidak baik, maka kamu akan dalam bahaya, kamu akan jatuh kapan saja, lalu kamu berdoa "Ya Tuhan, semoga si Daman tidak ngantuk". Lalu aku mendengar doamu, dan aku percaya bahwa Tuhan menitipkan kamu untuk ku jaga, untuk ku kendarai selamat sampai tujuan. Dan kamu memberikan kepercayaan padaku, dengan keyakinan aku orang yang bisa dipercaya.

Ya, aku percaya, untuk melindungimu dari keburukan, aku harus menjaga diriku dari keburukanku sendiri. Karena yang paling bisa membuatmu celaka adalah aku, karena kepercayaan.



***



Di luar dari masalah percintaan, karena aku laki-laki, kamu harus mempertimbangkan ini;

Aku adalah laki-laki, dan teman-temanku juga banyak yang kelaminnya sama, persamaan kelamin bisa menyebabkan persamaan watak, namun diantara persamaan-persamaan itu, terdapat pula ketidak samaan, ini bukan dari pelajaran buku, tapi lebih karena kenyataannya setiap individu adalah pribadi yang unik.

Sudut pandang cinta antara laki-laki dan wanita itu berbeda, jika perasaan laki-laki ada di luar, maka perasaan perempuan ada di dalam.

Kamu harus benar-benar jelih, jangan sampai keliru jatuh cinta. Selektif itu perlu, pilah-pilih juga tak apa, jangan sampai terlanjur serius dengan orang yang salah. Diantara jutaan laki-laki yang kencingnya berdiri, Pasangan yang baik adalah yang jika benar cinta, ia menjagamu dari keburukan, bahkan dari dirinya sendiri.

Laki-laki adalah pengemudi, kita percaya itu, tapi kamu masih bisa minta turun dan mencari pengemudi lainnya yang mampu dipercaya sebelum celaka. Pacaran-putus-pacaran-putus  itu tak apa, setiap orang berhak menyeleksi ketat calon pendamping hidupnya kelak.






Karena selain perasaan, cinta juga membutuhkan pemikiran.

Arsitek dan Kekasih

Mungkin ini cerita tentang segelintir arsitek yang punya kisah sama. Ya, ini kisah nyata, tentang cita-cita juga cinta.

Pada mulanya banyak orang yang menyangka bahwa jadi Arsitek itu enak, kerjanya gampang, dan keliatannya keren. Ya, ini adalah pandangan saya dahulu tentang Arsitek, lalu mengambil jalan hidup ke arah sana. Tapi pada kenyataannya, semua praduga itu tertepis satu-persatu, dari yang saya duga Arsitek itu kerjanya enak - ternyata enggak, dari yang saya sangka jadi Arsitek itu gampang - ternyata enggak, dan yang dulu saya duga jadi Arsitek itu keren - Ternyata suram. Ya, Arsitek yang belum kena tipes belum sah jadi Arsitek.

Begitupun dengan cinta, Arsitek yang belum pernah diributin sama pacar cuma karena ia lebih sering merhatiin kertas dibanding pacar, belum sah juga jadi Arsitek. Ya, problematika ke-Arsitekturan dan problematika percintaan sering saja bertabrakan. Mungkin untuk sebagian kasus ada yang sampai putus, atau sebagian lagi - sedang proses menuju bubaran.

"Sabar-sabarlah yang punya kekasih Arsitek". Kalimat ini dikutip dari status Anggie Puspita, teman sekelas saya, yang konon katanya sering putus nyambung gara-gara pacarnya ga kebagian jatah malem minggu. Ini juga menimpa pacar saya yang suka melotot kalo pacaran bawa-bawa kertas gambar, juga menimpa pacar-pacar teman saya yang merasa diselingkuhin oleh maket. Pun juga menimpa Istrinya teman saya yang merasa bahwa suaminya menikahi kertas gambar.

Kebetulan kita berlima satu kelompok, satu keluh kesah dan satu air mata. Arsitek-arsitek sayang kekasih perlu rasa lebih dari sekedar cinta dan kasih sayang. Yaitu pengertian yang mendalam.

Untuk semua pacar-pacar kita, Denah tapak ini kita persembahkan;


Bermata-mata Berapi-api

Ingat muda dulu, dimana setiap malam nabun.
Ingat pacaran dulu, dimana pacaran nabun.
Ingat rumah dulu, hampir kubakar untuk nabun.

Mata Api

Tapi lebih dari itu, ini
Mata berapi-api

Atau juga lebih dari itu, ini

Bermata-mata Berapi-api



24 Maret 2013

24 tahun lalu, tapi itu sudah lalu, jadi lebih mudah membahas hari ini, sekarang.

Malam ini, malam yang gelap karena tidak terkena sinar matahari, malam yang bagi semua orang adalah malam hari, tapi bagiku juga begitu, yang akhirnya membuat diriku sependapat dengan orang lain.

Bersama es teh manis dan henpon, yang membuat ku ada di Warung kopi, membuatku harus minjem dulu uang untuk jajan, minjem ke nenekku yang lagi tidur, minjem 10ribu, dan akhirnya dikasih dengan ngantuk dan cemberut, tapi dia tidak tahu kalau aku ulang tahun hari ini. Walau begitu, dia tak pernah punya alasan dulu untuk memberiku hadiah.

Ya, aku ulang tahun ternyata. Sempet kaget karena pacar nelepon, kirain mau minjem duit, padahalkan dia yang banyak duit.


Ternyata karena ulang tahunku. Kasihan dia, sampe nungguin malem, padahal akunya tidak.

Dia tadi telpon, katanya;
"Halo.. Brrrrrr....brrrrr.... brrrrrrrr..."

"Kipas anginnya matiin dulu atuh, yang"
Kataku.

"Selamat ulang tahun ..brrrrr... ya kamu ..brrr. Doanya ..brrrrr... udah di BB ..brrr"

Dia tidak dengar kayaknya.

"Iya, terimakasih ya, udah mau begadang nungguin aku ulang tahun"


"Iya, Aaamin"

Kayaknya dia ngantuk, jadinya agak kurang sinkron.

Singkat kata, akhirnya telepon ditutup, sayang pulsa soalnya, itu telepon dari henpon kakaknya. Nanti bisa marah kalau pulsanya abis.

Jadilah sekarang aku berumur 24 tahun. Semua ini gara-gara 24 tahun lalu aku lahir, juga gara-gara ada yang ngingetin, kalau tidak ada yang inget, mungkin aku pura-pura ga tau.

Tapi kalau bukan karena aku manusia, mungkin aku tidak bisa menjadi haru hari ini. Ya, aku jadi mikir andaikan aku adalah malaikat, pasti aku tidak punya pacar. Lagian mana ada malaikat pacaran? Apalagi dapet kado ulang tahun.

Untunglah aku manusia.

Bisa nungguin kado.



Ya, apapun bentuknya hari ini, aku mau berterimakasih, untuk semua teman-temanku yang sudah ngucapin. Mungkin tanpa kalian aku sudah tidur malam ini.

Juga Ibuku yang di luar dugaan juga ikut gayaa-gayaan seperti anak muda, nunggu jam 12 malam untuk mengirimkan sms. Ya, Ibuku kini sudah tak gengsi lagi ngucapin selamat ulang tahun ke anaknya sendiri. Dulu begitu. Dan ini mungkin untuk yang pertama kalinya.

Terimakasih Ibu, Terimakasih.

Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger