Di atas motor yang sedang jalan, aku berkendara, tepatnya di lampu merah yang aku sendiri tidak tau nama tempatnya, tapi bukan itu yang membuatku bingung, aku bingung kepada aku yang merasa benar padahal salah.
Pada semua jejaring sosial yang ada di henponku, yang sering kuperhatikan saat lampu merah, aku mulai merasa tidak suka dengan segala bentuk kepameran, entah memamerkan pacar, memamerkan mobil, atau memamerkan kerendahan hati itu sendiri.
Pada dasarnya mungkin kecendrungan ketidaksukaan terhadap pamernya seseorang karena aku tidak begitu. Tapi aku mulai merasa, lantas haruskah semua orang yang tidak sepertiku harus ku benci? Tentu jawabannya adalah tidak. Tapi itu yang sering ku lupakan, aku cendrung membenci orang terlebih dahulu, barulah demikian berpikir.
Dengan pamernya seseorang, apakah ia merenggut kebahagiaanmu? Pasti pun jawabannya adalah tidak. Ini lah kenapa aku merasa bahwa dengan merasa tidak suka terhadap orang pamer, sifatku justru lebih buruk dari pamer itu sendiri. Karena dengan jelas-jelas aku tidak suka melihat kebahagiaan orang lain.
Semoga lain kali dan kedepannya tidak lagi begitu.
Pada semua jejaring sosial yang ada di henponku, yang sering kuperhatikan saat lampu merah, aku mulai merasa tidak suka dengan segala bentuk kepameran, entah memamerkan pacar, memamerkan mobil, atau memamerkan kerendahan hati itu sendiri.
Pada dasarnya mungkin kecendrungan ketidaksukaan terhadap pamernya seseorang karena aku tidak begitu. Tapi aku mulai merasa, lantas haruskah semua orang yang tidak sepertiku harus ku benci? Tentu jawabannya adalah tidak. Tapi itu yang sering ku lupakan, aku cendrung membenci orang terlebih dahulu, barulah demikian berpikir.
Dengan pamernya seseorang, apakah ia merenggut kebahagiaanmu? Pasti pun jawabannya adalah tidak. Ini lah kenapa aku merasa bahwa dengan merasa tidak suka terhadap orang pamer, sifatku justru lebih buruk dari pamer itu sendiri. Karena dengan jelas-jelas aku tidak suka melihat kebahagiaan orang lain.
Semoga lain kali dan kedepannya tidak lagi begitu.





