Ujung Genteng

Seperti yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan “Teman tarzan”,
1, 2 hari kami akan bolang ke ujung genteng, (1,2 hari) jadinya 3 hari.. dimulai dari hari sabtu dan tentu saja semuanya mangkir di hari senin.

Kenapa cuti  itu 12 hari selama 1 tahun?, mungkin karena setiap bulannya semua orang harus menambahkan liburannya 1 hari untuk senang-senang.

What ever.. lets go!

*Jam 09.15am
Rencana kumpul jam 08.00am di rawamangun.
Gue masih dirumah, garuk-garuk gak jelas Cuma pake celana kolor.


Tiba-tiba “Krinng!!! Kringg!!!”, Siwo (siswo kuncoro) nelpon ;
Gue bangun dari kursi, Cepet-cepet ngidupin motor ;
“Cekekekeeeeeek.. Brumm Bruumm!”
 Lalu gue jawab. “Hallo!!”
Rada ketus

“Mang (gue), lu dimana?”
Dia nanya.


“Gue lagi dijalan, Nyo!”
Sembari memainkan Gas “Brummm Brumm!!”
“bentar lagi nyampe, Nyo!” (*spik!!!)
“Brummmm Brummm!”
Sesekali mainin klakson ;
“Titiiiit!” “Titiiiiit!”
“Titit Brummm!”

“oke gue tunggu ya!” telpon ditutup. Dia udah nyampe dari tadi.
Dan Gue matiin motor, ngelanjutin nonton inbox.

Ada Cinta Laura!

~~~ ~

30 menit kemudian gue berangkat, nyamper Obi (Robi Purnama) dulu di Bekasi,  baru ke rawa mangun.
Setelah sampai.. Anehnya gak ada yang nanyain gue “kenapa terlambat?”
Mungkin udah hafal sama tabiat masing-masing, dan berbohong hanya menambah dosa. :)

Ngaku aja sendiri ;
“Tadi jam 09.00 gue masih nonton inbox loh!” (ngomong sendirian, pelan!)

“………..  (?)”

Tidak ada tanggapan,

Sepertinya kejujuran itu tidak menarik.

“ :D … :D”
Senyum-senyum sendiri yang mengisyaratkan --> Kasih tanggapan kek..! komentar gitu! Atau apalaahh!

(tetep tak ada tanggapan)  -_-

(mungkin pada gak denger)

~~~ ~

Selesai berkumpul, kami berangkat.
Rencana awal 25 orangan. Alhasil hanya 8 orang yang ikut = 4 motor.
Tapi itu tak mematahkan semangat kami, itu bukan masalah.. berapapun orangnya, kami tetap berangkat.
“Karena rencana dibuat untuk dilaksanakan.”
Dan besarnya rasa kebersamaan bukan dilihat dari jumlah dalam nominal, namun dari eratnya semangat kekompakan dan pengertian.

Selesai berkumpul, dengan diiringi Doa sekena-nya dan sehafalnya..
“Bismillahirrohmanirrohiiim!”

Lets go!!! Berangkat!!!

“T I T I T Buruuuuuuuuungg ruuung!!!”

~~~ ~

Cakil (Cahyo) didampingi Siwo sebagai ujung tombak pembelah macet, disusul gue bersama Robi dan Onta (Arif) yang membonceng Jawek (Ibnu), lalu dibuntuti oleh orang hitam pekat/Shadowman (Teguh) bersama Tarzan (Sam).

“Jakarta siang hari keren bangaat!” (macet!)

Seperti biasanya,
Penyemangat gue dalam perjalanan gak jauh-jauh dari “wanita semok…  (bohay)” , gak munafik! Walaopun rada lemes kalo liat “Bude Sugeng” (Bujur Gede Susune Ageng), tapi khasiat/efek sampingnya bisa menjaga mata tetep “ngaceng!” !! (kenceng, mendelik, melotot, gak ngantuk). Kebiasaan seperti ini sangat dianjurkan untuk anak touring (tukang ngantuk) dan pemula. (gue)

Di tengah perjalanan, sepertinya Cakil (Cahyo Tri Santoso) ingin mencoba ilmu tektoknya, ilmu warisan bapaknya “Gatot KacO (Supeno)”.
Dia nyalip kekanan Bis Pariwisata..
Disambut Truk Galon dari arah berlawanan..

“JEDEERRR!!!!” (suara gaib)

*Spik!. Untungnya gak ada tabrakan, mungkin Cakil sedang baik hati.. tidak ingin melukai Truk.

“GOBLOK!!!” gue bergumam keras.

“ :D ehehe. :D “
Dia tertawa polos..

Minta di tonjok!

~~~ ~

Sampai di tujuan pertama kami “Cisaat-Sukabumi”, ke rumah A’Dedi / Om Dedi / Mas Dedi ! (Dedi Suhendra).
Bingung manggil namanya, ada yang manggil “Om, Aa, Pak!”. Sebenernya gue pengen manggil “Daaaaaddyyy!” seperti anak kecil amerika saat manggil
bapaknya.

Jangan!
Nanti Doi kaget, punya anak seganteng gue.

Di rumah Om Dedi, kami mampir untuk meminjam kamera dan sekalian numpang Sholat,

(tumbyeeen)!

Buat yang belum hafal bacaan Sholat seperti “Togar” (Teguh Wicaksono), ini adalah “Amazing”, akhirnya 6 tahun kenal Togar. . dia solat juga, hafal niat sholat dan bacaan-bacaannya.
Kecuali Doa setelah sholat yang diucapkan berkali-kali ;

“Minal aidin walfaidzin..
Minal aidin walfaidzin..
Minal aidin walfaidzin..!

Aaamin!”

Sepertinya ini doa maaf-maafan! (bener gak sih?)

(tanya Sam kalo gak percaya!)
(Gue yakin dia gak tau doa zikir selesai sholat)

~~~ ~

Disini, di rumah A’Dedi, gue dipertemukan oleh anak kecil yang unyu, rada pemalu tapi cepet  akrab.. namanya “ody”



Lalu gue nanya ke A’ Dedi ;
“A’, nama panjang “Ody” apa A’?

“Oh..” langsung dijawab cepat
“namanya bukan “Ody”, karena bapaknya suka jalan-jalan, jadi anaknya dinamain “ROADry”, R-O-A-D-ry (yang arti kasarnya “Jalan”) ”

“Hoh?” gue taksub..
Untung pake bahasa inggris, coba Ody dinamain bahasa indonesia..
Jadi… “Jalan” namanya! Atau bisa lebih keren jadi “Fly over”!

“Sebuah hobby bisa melahirkan nama yang menarik, bebas, dan bermakna!”

Pemikiran ini menginspirasikan calon nama anak gue, nanti!
Karena gue suka sepak bola, mungkin nama yang pas untuk anak gue adalah “GOAL KICK” atau “TENDANGAN BALIK”, supaya kelak iya menjadi anak laki-laki yang membawa Indonesia Juara Piala Dunia!.  Aaamin!

“Bagaimana kalau perempuan?”
Tiba-tiba terbersit pertanyaan ini.

Yaa… mungkin, karena gue suka keindahan yang eksotis dan berkelas, disertai panorama alam terbuka yang indah..

Gue namain dia ;

“BEHA” !

……………….

Ya!

“BEHA SAPUTRI”
Nama panjangnya.

Keren kan?! Eksotik gitu!

Atau “G-STRING” aja?

“G-STRING MONALISA” !!!


…………………mantep!

~~~ ~

Perjalanan dilanjutkan,

 

malam sudah larut, melewati jalur extrim seperti hutan dibatasi jurang disisi kanannya, jalan rusak dan sangat sepi. Terdengar suara burung “ihihihi” (sumpah! Suaranya seperti film setan di bioskop) dan gue selalu menenangkan diri dengan membaca ayat kursi dan surat alfatihah (dan ayat-ayat lain sehafalnya (gak banyak)).
Gue berharap ada wanita cantik bohay berbaju transparan turun dari pohon yang besar dan seraya mengajak “Mampir dulu yuk Mas!”..

“oh.. iya boleh Mbak!, rumahnya dimana?”

“itu tuh dipohon karet!” sambil terbang
“ihihihihihihiiii…..”

-_-! Brrrr…. 

Hayalan ini tidak membantu,
Dari kecil gue takut setan!
!



Hujan mulai turun, jalanan makin sepi, terjal dan berliku, yang terdengar hanya suara iringan motor kami menerobos kegelapan, pelan!
Tiba-tiba ada sesosok kain putih penuh lumpur dengan muka kapas yang berdarah merah lidahnya melet, mencegat jalan.

“POCONG!!!”
Gue teriak sekencang-kencangnya (dalam hati) memejamkan mata dan baca doa (sehafalnya), lalu buka mata.

“udah gak ada!”
doa yang hebat!.

……….

Halusinasi gue terlalu kreative disaat mencekam. Ini sangat mengganggu!

Biar gak ngayal serem terus.. lebih baik gue ngobrol.
Saat itu Robi yang nyetir ;

“Bi, kalo ada pocong yang berdiri di tengah jalan, jegat kita gimana ya?”
Gue mulai nanya, yang sebenarnya untuk menemukan jawaban ketakutan gue sendiri.

“ya kita tabrak, Mang!”

……?

-_- sok berani!

………

~~~ ~

Tempat baru, orang baru, pengalaman baru.

Tengah malam,
di perkampungan Surade.

Seperti yang telah di referensiin oleh A’ Dedi, kami tiba di Surade dan bertemu seorang teman bernama “Pria” (Fria Ramadani), dia adalah seorang fotographer dan pemandu wisata lokal di Sukabumi.

Kami bertemu disebuah rumah makan “…….” (lupa namanya) untuk beristirahat dan makan malam. Ada fasilitas musik live.. dan gue memberanikan diri untuk bernyanyi menghibur tamu-tamu (udah malem, gak ada tamu lain selain rombongan gue).
Dengan suara classic yang merdu, gue nyanyi lagu “Kemesraan (versi iwan fals)” dengan sangat hancur lebur.

“Kemesraan ini..jangan lah cepat berlalu.. uwoo uwooooooooooo”

….

-_- kata mereka bagus!

(Gue sendiri merasa jelek.)!

Atau mungkin mereka menangkap makna dan pesan dari lagu nya, tak peduli sehancur apa suaranya. :’( *terharu banget (sedikit!)*
pasti pada gak dengerin!!


………….

Selesai makan, kami bermalam di kediaman Pria..
Mengabiskan malam panjang dengan tawa,
Siapa yang menderita <-- itulah “tawa”! :)
Ternyata Tarzan takut setan! (Sam)
“sungguh gak Genah!”

Maaf ya, Ia! (Pria)

~~~ ~

Hari berganti,
…..
Pagi-pagi buta, anak-anak baru tidur! (kan begoo!)

“Kukuruyuuuuuuuukkkk!”
“Kukuruyuuuuuuuuuuukkk!!!”

Gue nikmatin suara ini dengan terpejam.
Udah lama banget gak denger ayam menggonggong,
Kalo di kota, sirine pagi-pagi yaitu ;

“Yuuurrrr…. Sayuuurrr!!!” <-- itu tanda sudah pagi.

Walaupun gak jauh beda suaranya, tapi gue lebih seneng suara ayam.
lebih Natural, gitu!
Apalagi ayam kampus…

“Sayaaangg.. bangun donk…! Muuaacchhhh!!! ”
Wuaaaahhhhhh!!! Bikin gemeeesss!!! :’))
……..

Jam 06.30 gue udah kebangun.
Gak tau kenapa, jam berapapun gue tidur, pasti bangun pagi.
Terbiasa kaget oleh “MAAAN BANGUUUN!! KERJAAA!!” dari teriakan Nyokap.

 

Gue tunggu sampai jam 08.00, lalu bangunin anak-anak dan menemui Pria. (kita berencana keliling Ujung Menteng, Surade, Cikaso dan lain-lain (gue gak hapal).
Niat kami adalah menjelajeh tempat-tempat eksotis di sekitar Sukabumi.
(Niat gue adalah mencari gadis-gadis seger yang eksotis di sekitar sukabumi).

Beda tipis.

….

tidak jauh dari Rumah Pria, terdapat “Air terjun (curug) Cigangsa” yang kami tempuh hanya bisa dengan jalan kaki,

 

(tampak atas) ini adalah curug yang belum terjamah wisatawan dan belum diwisatakan, Agustus lalu diShoot untuk program televisi “Jejak petualang”, dan Pria-lah kuncennya!
Rada susah menuju tempat ini, karena memang tidak diwisatakan, dan memang jarang sekali warga sekitar yang pergi kesana, entah angker atau keramat, gue rasa seperti itu.
Yang gue tau, ini curug.. “Bohay banget! Mantep!” (perlu dikunjungi)

 

Siapa saja yang kesini, selalu merasa “ini curug gue!”
Ya karena memang, gak ada orang selain lu!.
Lu bebas mau jungkir balik bugil juga gak ada yang liat.

 

Dan gue berharap ada bidadari lagi mandi di air terjun ini dengan kain tipis yang basah, kemudian gue intipin dan mencoba mencuri selendangnya.

“biar dia nyari selendangnya gak pake baju”

…..





“hey Bidadari, aku berdoa sejak kecil untuk momen seperti ini!”
“membayangkan bisa melihatmu berbasah-basah ria” (asyiiik!!)
“menegaskan keindahan lekuk tubuh wanita sempurna” (Wooooooww.. Assyyiiiiiikkk!)

“apa rupamu seperti Dian Sastro, Gita Gutawa, dan Nagita slavina?
Atau Julia Perez dan Inul daratista?”
“aku menunggumu, dating, hari ini! Disini!”

….

Cukup lama gue berdoa..
tapi bidadari memang tak pernah ada. -_-

“Emangnya gue anak kecil apa, bisa diboongin!”

(Emang!!!)

~~~ ~

Perjalanan selanjutnya, kami berangkat ke Curug Cikaso.
Sekitar 20km dari Cigangsa.



Kami naik kapal Very menuju Curugnya,
hanya sebentar.. 80ribu!

tau gitu mendingan gue berenang, tadi!.


Curug cikaso,
lebih tinggi dari cigangsa.. tapi sayang curugnya rada kotor, dan rame pengunjung!
Nilai plusnya ya… banyak gadis-gadis wisatawan berbaju transparan terkena cipratan air terjun. :p

~~~ `

Merasa gak pewe, kami langsung berangkat ke ujung genteng.
35 km dari cikaso.

Lets go!

Tengah hari bolong kami diperjalanan, jamnya anak sekolah pulang kandang.
Yaitlah! Gadis Sukabumi seger-seger, innocent dah!.
Sayangnya masih kalah sama gadis jakarta dan bekasi, karena cara dandan dan style-nya aja sih sebenernya. “over all, sama! Yang bebedak tebel.. masih ada”

Kali ini gue sama Robi dibelakang, jadi buntut iring-iringan.. dan tertinggal jauh.
Ini karena Robi kecentilan!
Setiap ada cewe bening sedikit langsung minggir,
Setiap ada cewe bening sedikit langsung minggir,
Mbak-mbak, Adek-adek, sampe Ibu-ibu juga digodain!
Dan merekapun merespon dengan baik,
Ketika gue lempar senyum, mereka balik senyum (ke muka robi tentunya)
“gantengan Robi dikit, soalnya!” (terpaksa jujur!)

………

Sampai disebuah tempat, hampir ujung genteng, kami singgah di sebuah Villa besar.. bukan untuk menginap disini (mahal)! Tapi untuk sekedar singgah dan melihat perpapasan muara dan laut, dari atas tebing.




Ya! Kami bukan sekedar teman ngumpul, nongkrong dan ngobrol-ngobrol gak jelas.. kami adalah sekumpulan manusia yang mencintai alam, dan menganggap alam adalah sahabat.

Kami…

 “Sekawan Bumi”.

(gaya! :p)
~~~ ~

Perjalanan dilanjutkan, gue dan Robi tetep dibelakang..
Didepan gue, ada Arif dan Jawek melaju kencang.

“Trak! Trak!! Traaaak!!!” (mungkin bunyinya seperti itu (gak kedeneran))
Ada bungkusan hitam jatuh dari motor Arif.
Gue berenti untuk mungut,
….

Ternyata kameranya Arif beserta sarung-sarungya jatuh..
….
“goblok tu Anak! Kamera dibuang!”
(yaudah, TEM buat gue! “yes!”)

Sebenernya bukan kameranya yang gue takutin rusak, tapi foto-foto kenangan yang ada didalamnya!
Gue nyalain, …….. “untungnya gak rusak”

Bagaimanapun.. kenangan itu berharga,
karena dia adalah “waktu”,
Takbisa diulang.

Gak beberapa lama, Robi ngeliat jam tergeletak di jalan (dari kejauhan), dan langsung mengenali..
“Wah! Jam Arif jatuh lagi tuh man!”
Gue turun dan lari kebelakang untuk mengambil, “kucluk-kucluk-kucluk!!”
dari kejauhan ada Truk yang asik melaju cepat,
Gue melambaikan tangan dengan maksud, “pelan-pelan! Gue mau ngambil barang jatuh dulu, Lay!”.

Truk itu tetep asik melaju kenceng, mungkin dikiranya maksud lambaian tangan gue “Bang Stop! Nebeng dong!”
Truk makin dekat, gue makin ngebut larinya..

“JEDEEEEERRRRR!!!!”

(spik!!!)
Setelah gue dapet jamnya, gue loncat kesamping jalan.

“Untung gue lincah!” (dalem hati!)

…..

Gue ketinggalan rombongan, jauh!
Gak lama, Arif terlihat sedang berbalik arah, dan menghampiri ;
“Mang, liat jam gue jatoh gak?”

“lah lu gimana? Punya barang dibuang-buang mulu!”
Gue rada ketus, dan ngembaliin.
“Nih!”:D
“Mampus! Jamnya pecah!” (dalem hati)

Setelah dijelasin, ternyata tas Arif belum diseletingin,
dan dia merasa kehilangan banget kalo jamnya itu ilang, karena itu hasil pemberian seorang teman.. (yaiyalah, mana mampu dia Beli!)

“biar rusak pun gak apa-apa asal masih ada. (katanya)

Sekali lagi, gue bener-bener percaya ;
“Bagaimanapun.. kenangan itu berharga,
karena dia adalah “waktu”,
gak bisa diulang, “

kali ini bukan masalah jam yang bisa dipakai atau gak,
tapi bagaimana kita menjaga buah kenangan yang terdapat didalamnya.

~~~ ~

Sampai di ujung genteng, pantai yang sepi dari keramaian.



“Saatnya mandi!”

Gue paling gak tahan liat laut, hawanya pengen berenang terus walaupun gak jago-jago amat, tapi itulah cara gue nikmatinnya lebih dari sekedar memandang hamparan langit diatas garis lurus.

Dan kamipun berenang, dan hujan turun malu-malu.
Merasa laut milik kami! Tak ada yang lain

Damn! kami baru sadar setelah lama..
Ternyata dari tadi ada Mas-Mas nongkrong di karang, dan itu bukan nyari ikan.
Melainkan

 “BOKER!”

(setelah liat pantatnya nyelup setengah di air)

Pergerakan air lautnya pun kearah kami.
“Zeeerrr!!!! Zeerrrr!!! Zeeeeeeerrrrrrrrr!!!”

“gue sumpahin dipatok uler tuh Ulernya!” -__-!

…….


Seperti halnya anak kampung dulu, kami bermain “Galaxin”, sebuah permainan tim yang tidak dibakukan menjadi salah satu pelajaran olahraga.

Walaupun kami sekumpulan anak yang jarang sekali bertemu (mungkin setahun hanya 5X), tapi masalah kekompakan.. itu soal mudah!
Selain dari gender yang sama, genre musik kami juga sama ;

“Cinta Laura!”

(padahal gue doank yang demen!)

…….


Kami beristirahat di penginapan “Hexa”, tempat yang murah meriah pada hari biasa dan jadi mahal saat masa liburan.
1 kamar (2 bed + bathroom) = 125.000,-/hari (hari biasa)
1 kamar (2 bed + bathroom) = 500.000,-/hari (masa liburan)

Walaupun kami bermasa 9 orang, kami pesan 1 kamar saja dan tambah 1 bed.
ini bukan masalah gak punya duit.. tapi karena kami lebih suka sempit-sempitan dan berkumpul.. “lebih rame, lebih berasa” disamping itu, “lebih hemat juga sih!”

dari siang sampai magrib, kami mainan air gak bosen-bosen. Dan ditutup dengan mandi sungguhan di kamar mandi. “Akhirnya, mandi juga!”
perlengkapan mandi gue adalah yang paling simple. Gak pernah gue bawa anduk! (Ternyata) selama ini gue gak tau, kanebo itu dikhususkan buat cuci motor.
Ya.. gue pake aja buat handukan.. kadang-kadang buat lap motor juga!

Selesai mandi Lalu makan malam, kemudian mengisi waktu kosong dengan tanding billiard.
Bagi kami, istirahat dan tidur akan sangat merugikan disaat seperti ini.
Karena kami sadar, ini kebersamaan yang harus dikenang, dan “tidur” akan memotong bagian-bagian itu.

………..

Sudah pukul 08.00 malam, saatnya ke penakaran penyu di Pangumbahan, kami siap-siap seadanya dan dilarang pakai celana panjang, karena becek! (kata Pria).
Kami pun berangkat, dengan Doa sehafalnya.. (pasti!)

Jarak 5 km dari penginapan, tapi sepanjang jalan itu adalah jalur Of Road. Jalur yang sangat tidak bersahabat.
Becek, belok, lumpur, batu, jembatan kayu yang licin, membelah aliran got besar.
Semua tanpa lampu jalan.

Konon katanya, jalanannya sengaja dibuat hancur dan sulit dilewati untuk mencegah pencurian penyu.. (yang biasanya menggunakan Truk-truk).

Alhasil, jalanannya super hancur!
Ini seperti membelah hutan, yang terkena banjir bandang. Lumpur!

“jika sendirian, gue gak bakal mau lewat sini. Terlebih tengah malam” pasti banyak SETAN!



Sampai di Pangumbahan, tempat pelestarian penyu.

Setau gue, penyu adalah hewan yang hampir punah,
Rada mirip uya kuya, tapi lebih besar dan lebih “unyuuuu..!”
Mereka hidup berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai ratusan tahun.
Penyu juga salah satu hewan paling tua di bumi, mungkin dari zaman purba (selevel Dinosourus), dan tentu zaman itu belum ada tukang Sayur.

1x bertelur, dia mengeluarkan 200 butir, tapi mungkin tidak ada yang bertahan sampai dewasa dan bertelur kembali, karena rantai makanan / garis kehidupannya menyebabkan ia sangat sulit untuk bertahan. Terlalu banyak predator (termasuk manusia) yang tidak mengerti tentang kelestarian penyu.

Mereka hampir punah.

Penyu adalah petualang, mereka berkeliling dunia sepanjang hidupnya, tidak menetap dan berkelompok lalu bertani, Tidak!
Mereka berkelana sebagai makhluk tertua di laut, penunggu bumi yang setia, dan 1 hal yang tak dimiliki hewan lain ;

“sejauh apapun ia berkelana, ia akan kembali..
Kembali ke tempat ia ditetaskan, (itu pasti!)
Kembali menunjukan bahwa ia punya jati diri, kampung halaman, (dan alamat lengkap yang tertulis di KTP dan ijasah SDnya).
Kembali untuk bertelur di tanah kelahirannya, seperti apa yang Ibunya lakukan dulu”

………

“Lalu pergi lagi,

……….

… berkelana, dan mati!”

:’’’)

~~~ ~

Kami pun ke pantai,
Untuk bertemu penyu pertama kalinya seumur hidup.

Saat itu air sedang pasang, guncangan ombak yang menyatu serasa menggelegar!

“GrrrrRRRRRRRrrrBUUUUAAARRRRRRR!!!”

Hanya indra pendengaran yang paling menonjol digunakan.

Gelap!

Menggelegar!

“GrrrrRRRRRRRrrrBLUUUUAAARRRRRRR!!!”

gak ada yang bisa gue liat kecuali amukan ombak yang terlihat dari jauh, karena memang tidak boleh menyalakan apapun disana, karena penyu takut sinar.. ini bisa membuat mereka tidak jadi kepantai dan menunda penelurannya hari esok, esok, dan esok sampai bener-bener mules dan tidak takut cahaya! (bisa karena kepepet)

gue injakan kaki di hamparan pasir pantai yang sangat halus..
“baru pertama kali seumur hidup, gue nemu pasir selembut ini, sumpah! Jadi norak!”,
Entah itu tepung terigu atau bukan! Gue bener-bener gak bisa liat! gak ada sinar sama sekali kecuali cahaya petir menusuk-nusuk yang terlihat di kejauhan. (di sana sedang badai!)

Setelah berjalan di tengah pantai (mungkin di tengah), kami disuruh duduk oleh penunggu penyu (petugas persalinan/bidan penyu), dan menunggu penyu datang..

“Tak ada yang bisa menebak jadwal penyu datang dan bertelur, mungkin saja hari ini tidak ada jadwal persalinan..”

Kami sedang menunggu ketidak pastian!
Tapi tak apa,
Duduk di tengah pantai gelap gulita diselingi petir yang malu-malu muncul juga backsound ombak yang kenceng.. sudah sangat lebih dari cukup.

“ini seperti Teater! (bioskop)”
Sambil memandang hamparan laut gelap yang tak terbatas.

‘ini adalah Teater Tuhan, dimana kita semua adalah aktor bebas, menjalani kehidupan dengan tanggung jawab masing-masing peran yang sudah ada di sekenarionya . “Sekenario Tuhan”!’

Menit demi menit terpaku bisu dan tersenyum..,
terlalu bahagia dan kagum.




Gue pun tertidur.

………


~~~ ~

“Man, bangun man!”
“Ada penyu!”   
Suara teguh dan Pria, terburu-buru.

-_-zZZ

Masih sangat ngantuk,
Mereka pun berjalan kencang menuju TKP.
Mengikuti langkah mereka adalah lari kenceng buat orang setengah sadar setengah bego (gue dan yg pada tidur juga).

Taraaaa!!!!

“Penyu!”
“Unyuuuuuuuuuu!!!!!”

Mereka pada norak banget! Sumpah!!
(sebenernya gue pengen ikutan norak, tapi gak bisa karena masih bego! Dan gak sadar!)



Ternyata setelah bertelur, kita boleh berfoto (nyalain sinar)!
Penyu itu malu-malu kucing, tapi banci kamera! Liat aja tuh matanya! (natap kesini!)




“Unyu-unyu-unyu-unyu…” kata mereka
(gue gak ngerti artinya).

Gue cuma takut kalo tiba-tiba itu penyu adalah siluman, dan berubah jadi buaya.. “celakalah mereka ber-5!”

Kalo jadi putri duyung…

gue bawa kabur!!”

~~~ ~

~~~ ~

~~~ ~

Hari terakhir di ujung genteng, kami habiskan untuk bermalas-malasan di warung samping pantai, menunggu siang dan pulang.

Membungkus cerita masing-masing menjadi satu dengan obrolan ringan.



Tempat baru, orang baru, budaya baru, membuat kami berfikir ;
”banyak hal yang belum kami ketahui, dan banyak hal yang harus kami ketahui”

Ini bukan hanya sekedar jalan-jalan, dimana tujuan utamanya ‘mencari senyum dan tawa bahagia’,
Karena kami mendapat lebih,

lebih dari apa yang direncanakan pada awal..

kami menjawabnya… dengan jiwa setelahnya ;

“Wisata Spiritual”

:)

.......

Semangat!!!

See you next Trip, “Sekawan Bumi”! :)







Notes :

-    “Takut” hanya sebuah rasa, menghindar darinya hanya membuat kita makin lemah lalu kalah pada diri sendiri, pada fikiran sendiri.

-    Sebagian dari “kepuasan” adalah menaklukan apa yang kita takuti

-    jangan pernah percaya 100% kalau nanya jarak sama orang di Pedesaan penduduk desa, karena 2km buat dia adalah 20km buat kita!

-    Tidak ada kata “menyusahkan” untuk Sahabat. :)

-    Mission complete!!!

6 komentar:

ds

heheehehehehe

unyuuuuu bercerita

Hey, Bocah..! What...?

hanya waktu yang bisa bercerita seperti ini hehehe like this mang.

*runrunphii

unyuu~ keren banget ceritanya! man, lu tampang doang rambo. tapi ama setan takut.. *padahal sama gw juga takut banget ama setan*

ibnu "Jawek"

wah keren brader cerita loe...
next trip,, jalan kmna lagi??
mudah2an sama anak2 yg laen pda ikut ya mank??
asli cerita loe bikin gw ketawa sendiri..
mantap...

Daman kadar

@ds : terimakasih Kang, udah mampir :)

@bocah : yoman.. wo! :D

@runphi : ahahaha... manusiawi sih Mput.. :P
dari kecil kita udah ditakut-takutin sih...

@ibnu : ahahaha... kayanya sih lampung Wek!
iya... kayanya sih pada berminat kedepannya. :D

Anonim

gaya cerita lo mantep cing!
A+
lo bikin buku pasti banyak yang suka!

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger