gak ada apa-apa !

Pagi ini, di lampu merah pertigaan jalan Kemayoran menuju sunter, para kendaraan menunggu lampu hijau dengan penetrasi tinggi, bersiap-siap melepaskan hasrat pembalap di track lurus sepanjang 3 km itu.

Tidak berapa lama, lampu kuning pun menyala.

Seperti biasa, gue kurang syahwat menuju kantor, gak terlalu nafsu ngejar waktu agar tak terlambat dan melajukan motor sewajarnya (tidak cepat tidak lambat).

Tepat di jalan Danau sunter II.
Kendaraan ramai lancar, padat berisi. sedikit sekali celah untuk ugal-ugalan.

15 meter didepan sana, terlihat Bajaj dari lawan arah yang sepertinya hendak  menerobos lajur kami untuk berbelok kekanan, gue pun memperlambat laju motor dengan perlahan, begitupula dengan pengendara lain..

Tiba-tiba pengendara motor Jupiter hijau dari arah kiri membanting stir kekanan agar lebih cepat melintasi bokong bajaj.

“DEEEG!!”
Kaki penumpang Jupiter hijau itu mengenai spakbor depan Mio gue.

“WOY BEGO!!!”
Dia memaki.

“ELU YANG BEGO, MALAH KESAMPING!”
Gue jawab reflex.

“APA LO!!!”
Mereka (2 orang yang menumpangi Jupiter hijau) perlahan menepi ke kanan jalan.

Gue fikir dari pada macet dan gak penting ngeladenin mereka, gue pun ngelanjutin perjalanan.

Selang 20 detik gue jalan dan sesekali melihat spion, sepertinya mereka mengejar.
Mungkin gak terima.

Oke, gue tungguin!
Memperlambat laju kendaraan agar mereka cepat menyusul.

Saat motor Jupiter hijau itu mulai mendekat, gue pun membuka kaca helm.
Sampai akhirnya mereka sejajar dengan motor gue.

“PLRAAAAAKKKKKK!!!”
Pala gue dikeplak, sama Mas-mas yang dibonceng.

“WOY BEGO!!! TOLOLL!!”
Mereka mencaci.

Gak terima, gue pun mengajak mereka menepi kekiri jalan, dan berhenti.

“KENAPA PAK?!!!”
Gue sewot

“GEPLAAAKKKKKK!!!”
Pala gue digeplak lagi. (lebih keras lebih telek!)

“UDAH NYENGGOL KABUR LO!!!”
Mas-mas sipit putih sekitar umur 25thn ini udah mulai ngajak ribut dengan muka nyolotnya.

Gue sewot
“SIAPA YANG… “

“APA!! NYARI RIBUT LO?!!”
Tiba-tiba omongan gue dipotong sama temannya, (Bapak-Bapak sekitar umur 35 tahun, Berbadan besar, kumis tebel dan sedikit jenggot.. yang menyetir itu).

“LAH SITU YANG SAL… “

“UDAH NYENGGOL BUKANNYA MINTA MAAF LO BEGO!!”
Omongan gue dipotong lagi sama Mas-mas ini.

“BUKAN BEG… “

“!@#$%^&*()!@#$%^&*()!@#$%^&*()!!!”
Dipotong lagi dan dipotong lagi, mereka gak ngasih sedikitpun celah gue ngomong satu kalimat.

Gue diem.
(bukan takut atau nyerah, justru gue lagi berkelahi sama diri gue sendiri untuk tahan emosi).

“!@#$%^&*...” 
mereka tetep ngomel gak jelas.

(tahaaaaannnn!!!!)
Kalo gue ‘Songoku’ udah gue KAMEHAME dua manusia ini!

(Tahaaaaaannn!!!)
Andai nyokap tau, anak satu-satunya ini di dzolimi, bisa diacak-acak tuh muka mereka.. hidung di mulut, mata di alis, kuping di jidat, dagu di pantat!

(Tahaaaannnn!!!)

Mereka tetep memaki ngajakin ribut.

Andaikan membunuh gak dosa, pasti dua orang ini udah gue…. (gue dibunuh)!

(Tahaaaaaaannnn!!!)

Dan andaikan gue lawan pun, gue pasti kalah lalu pulang cari betadine.

(TAHAAAAAANNNN!!!)

Libido petarung gue meletup-letup pengen berantem.
Gak ngaruh deh kalah! Yang penting berantem!



Tapi..



Gue gak mau kalah 2x,

Kalah lawan mereka,
Dan kalah melawan diri gue sendiri.

Gue tetep diem, dan coba lebih tenang.
Berharap datang sekelompok Burung Ababil yang melempari mereka dengan batu neraka.

….

Selang beberapa lama..

Kemudian datang 1 pengendara lain menepi,
Vario putih yang ditumpangi Bapak-bapak sekitar umur 40 tahunan berkumis hitam putih. Dan Ia pun mendekat.

“Pak, Bapak yang salah! Mas-mas itu yang bener!” (nunjuk gue)
Asiiiik, pahlawan akhirnya dateng membela gue.

“DIEM AJA LO!!”
Sambil mendekat, Bapak-bapak musuh gue ini nantangin ribut Bapak-bapak pahlawan gue. Dan mereka berdua bersitegang.

Pengendara lainnya pun ikut menepi, jalanan di depan Danau sunter I pun ramai menunjukan akan macet.

“Udah Pak gak apa-apa.”
Gue melambaikan tangan ke pengendara lain, mengisyaratkan semua baik-baik saja..

Mereka masih bersitegang meributkan siapa yang salah dan siapa yang benar.

“Udah Pak gak apa-apa.”
Kali ini lambaian tangan gue untuk Bapak-bapak pahlawan gue.

Akhirnya Pahlawan pun pergi, tinggal kami ber 3 lagi yang bermasalah.

Mereka berdua masih nyolot ke gue.

Gue tetep diem nahan emosi, menyilakan tangan di depan perut,mengepalnya keras-keras dan  menarik nafas setengah panjang.
Setidaknya saat gue terlihat bodoh dihadapan mereka, gue merasa cerdas dengan berdiam diri. Biar orang lain yang menilai.

Dari kejauhan, ada Satpam berlari mendekat.
“Kenapa ini?!”
Dia pun bertanya ke gue.

“Gak apa-apa pak!”
Gue jawab penuh senyum palsu, seakan gak ada apa-apa.

Mereka berdua (si musuh) serta Jupiter hijau berplat nomor baru itu pun bergegas pergi.

Gue pun menyalakan motor kembali, ngintilin mereka percis dibelakangnya. Berharap mereka kembali menepi dan ngajak ribut lagi, ataupun berharap kecil mereka sadar kalau mereka yang salah lalu meminta maaf.

Sampai di perempatan lampu merah Danau Sunter I, mereka pun mengambil jalan lurus, dan gue harus ke kanan ke arah kantor.. jam masuk sudah sangat telat.

Masih dengan emosi yang tertahan, penasaran ingin fighting ber 3.
“Sudah.. Sudahh”
Gue menenangkan diri sendiri. Dan menuju kantor dengan ikhlas.

Walaupun kalah main Geplak-geplakan 2-0 , seenggaknya gue merasa menang terbukti gak salah dan berhasil menahan emosi diri sendiri.

Mungkin disini gue harus banyak belajar, ‘Bagaimana caranya meminta maaf’. Siapapun yang salah, apapun alasannya.
Karena setiap orang mempunyai fikirannya masing-masing dan tiap fikiran selalu merasa benar.

Sungguh hanya Tuhan yang tahu, dan hanya Tuhan yang berhak merasa benar.

6 komentar:

Daman kadar

asfasdfa

Anonim

ckckck.. hajar aja napa!

*runrunphii

eh, gw yang baca jadi ikutan sewot loh.. tapi tindakan lu keren man. ngalah bukan berarti kalah. tapi emang lu pasti bakalan kalah sih kalo ngadepin mereka. (- -")
tapi lu kereeeen! hidup damaaaaan! *pasang spanduk*

Daman kadar

gue yang nulis aja sambil sewot :))

berarti penjiwaan kita tajem, Mpi :D

iya bener -_- 1 lawan 1 aja gue belom tentu menang.. ini 2. gede-gede lagi Y_Y .

ucigwulandari

haha .kalo gue tetep bales keplak ! :P

Daman kadar

kata Bapak Tebeeeeee... "bales dendam ituuu tidaaakk baaikkkk" :)

gue kan cari pahala, bukan cari borok.
:D

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger