Khayal, Tunggu, Khayal


suatu ketika dimana kita disuruh berhenti, ketika kita harus paham dengan ‘apa itu rencana Pencipta’, mengalunkan symphony pasif yang aktif berfikir, “Apakah aku akan seperti apa yang aku inginkan?”. Aku yang hidup di dua alam, bermain dengan khayalan sendiri yang selalu bisa menang, lalu tersadar dan harus berjuang merealisasikannya di alam bersama.

“Apakah aku akan seperti apa yang aku inginkan?”.

Terkadang aku berfikir lebih iri hati kepada orang gila, dimana aku selalu yakin ;
‘tak ada Dokter yang tega menyembuhkan Pasien gilanya  dengan sedikit pertimbangan, karena semua Dokter pasti tau, Mereka lebih bahagia dengan alamnya dan lebih dihargai di alamnya. “Apa kau yakin ingin menyembuhkannya dan merebut kebahagiaannya?”, kurasa, jika kita gila, kita tak akan ingin waras kembali.

“Apakah aku akan seperti apa yang aku inginkan?”.

Tak akan pernah sama baik hayalan dan realita, apapun yang terjadi selalu ada selisih perbandingan. Selalu saja segala sesuatu telah kita menangkan dialam bawah sadar, selalu saja kita dibuat 2 pilihan, ‘Ya’ atau ‘Tidak’ untuk mewujudkan, dan selalu saja kita berfikir untuk menundanya dan membiarkan waktu bicara.


“Sesungguhnya saat kita menginginkan sesuatu, maka “KEJARLAH!”, lalu paksa waktu menyerahkannya. Karena saat kita menyerahkan semua pada waktu dan duduk manis, kita sedang membiarkannya pergi menjauh”.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger