Binatang Sayang, Binatang Malang.


1.
Kutemukan (almarhum) ayah tiri bernama ‘Oman’ dalam ingatan, entah apa nama kepanjangannya, lupa. Hobinya menanam dan menernak binatang. ‘Burung merpati’ misalnya, selalu tergantung dibawah plafon rumah yang menghadap barat, berkicau tak merdu terus-menerus  dari pagi sampai magrib, “huk pruuuwuuk, huk pruuuwuuuk!” mungkin iya takut ketinggian, ku turunkan saja disamping rak sepatu yang tergeletak bebas di teras, di samping kaos kaki busuk milik kakiku, semoga iya bisa menahan nafas dan tak terkena radang tenggorokan.

Malam hari ayah tak pulang, mungkin mengantar barang ke luar kota. Ku pantengi TV hingga jam 3 pagi karena bola. “Ciaaak Ciaaak!” kurasa ada ayam yang bertengkar dengan kucing malam ini, lalu tidur tanpa mencemaskan ayam yang sudah besar itu. Ia sudah besar, bisa menjaga dirinya baik-baik, lagi pula aku tak percaya ada kucing yang ingin memperkosa ayam.

Pagi hari, kudapati helaian bulu burung merpati di depan pintu rumah. Dengan sedikit darah yang sudah mengering. Ku lihat ke sangkarnya yang ada diatas plafon rumah, “loh kok gak ada?”, “kenapa ada di bawah, di samping rak sepatu?”. Bertanya dengan keras, supaya ibuku yang sedang mandi dengar. Mungkin inilah seleksi alam dan takdir Tuhan. Akan kujelaskan begitu setibanya ayah di rumah.

~ ~ ~

2.
Tentang ayamku yang bisa terbang bebas. Mungkin terpaksa terbang setelah kulempar tinggi ke langit, sekuat tenaga melempar keatas, berharap sampai langit lalu menukik ke bumi dengan gagah. Saat itu musim burung balap, burung dara yang bisa diadu kecepatan terbangnya, sebenarnya sih diadu mata keranjangnya, siapa yang lebih cepat terbang ke pasangannya yang sedang telanjang. Kurasa jika burung dara wanita itu dipakaikan baju, pejantan-pejantan tak mau buru-buru. Toh, harus melepaskan bajunya dulu untuk senggama. (efek blog dewasa yg baru saja tak sengaja dibaca sampai habis di internet).

Ayamku bukan ayam nakal, iya tidak mata keranjang seperti burung-burung dara itu, hanya saja iya kulatih terbang agar terlihat lebih keren dari ayam-ayam lain. Kali ini sudah 13 kali kulempar ke atas dan mendarat dengan selamat. Kali ke 14, ku coba dari atas genteng, ini akan lebih extreme dari 13 kali sebelumnya. Disaksikan 4 teman sebayaku yang sejenak berhenti dari permainan gundunya hanya untuk menyaksikan moment hebat ini. Sebenarnya ku suruh memperhatikan. Ini ayamku, baru 6 bulan umurnya tapi hebat.

“satuuuuuuuuu… duaaaaaaaaaaaa… tigaaaaaaaaaaaaaa!” kuhitung kencang-kencang dan melontarkannya keatas, lalu terbang lebih ngawur dari biasanya, arah pendaratannya adalah jalanan di depan rumah, ia lebih gagah dari burung dara, lebih panjang kakinya dan lehernya, lebih lantang dari burung rajawali di film ‘yoko’, suaranya “ciaaak.. ciaaakk.. ciaaak..ciaakk.. ciaaak..” suara sepanjang masa terbangnya, ia lebih gemuruh dari ‘Lion Air’ pendaratannya di tunggu kami dengan sorakan “Ayooo’terbaaang’aayo’terbang’ayooo’Terbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangg……” .

Dari arah berlawanan ada mobil box yang melaju sekitar 20km/jam, tak sempat mengerem dan melihat ayam jatuh dari langit. Ayamku tidak tertabrak, hanya saja pendaratannya yang kurang tepat, percis di depan ban-depan-kanan mobil.
Lalu mati terlindas, bersimbah darah, palanya gepeng, kakinya patah, kotorannya baru keluar setelah makan kangkung yang sebelumnya ku iris kecil-kecil.
Maaf ya Yam, ini benar-benar takdir Tuhan. Seleksi alam, yang kuat yang bertahan, mungkin mobil itu memang lebih kuat dari kamu. Coba kamu lebih kuat dari mobil itu, mungkin aku bisa terkenal. Sayaang tak begitu…



Jakarta, 2001

Bulannya lupa, harinya lupa, apalagi tanggalnya.
nama ayah aja lupa.

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger