GP 6

label : PMR pebangunan

‘Gebyar Pembangunan VI’, even kompetisi palang merah remaja se-Jabodetabek, acara perlombaan yang terselengara 2 tahun sekali, acara susah-susahan bersama dalam jangka panjang. Gue rasa mayoritas kita setuju di kalimat terakhir.

Tahun 2011 adalah kali ke-6 nya acara ini terselenggarakan, umur yang cukup tua untuk disebut ‘berpengalaman’. Tapi tak begitu, GP tak mengenal umur dewasa, karena setiap terselenggara ia adalah bayi yang baru lahir. Rasa baru, cara lama.

Pergantian pembina membuat kami seperti anak tiri yang ditinggalkan ibu kandungnya, butuh proses yang pelik untuk mengenalkan buntut dan kepala yang baru, kali ini bukan terlahir kembali, melainkan reinkarnasi. Lebih lugu dari terlahir satu ibu, kami tak tau apa-apa.

Proses persiapan yang makan hati, makan jantung, makan paru-paru. Itulah mengapa rada sesak saat teringat ‘GP’. Andai hidup ini game, mungkin lebih baik direstart dan jangan ikut GP.
‘a ha ha ha’, sepertinya lebih lepas mentertawakan kepahitan hidup daripada mencari bahagia.
Tapi hidup punya peraturannya sendiri, tak bisa seenak hati seenak udel! Lu pikir hidup cuma punya lu!?. Jalan satu-satunya, ya.. ikuti arus dan nahkodai sendiri.

Waktu tak pernah berjalan mundur, tiba juga di saat yang ditunggu kedatangannya. 24 April 2011. Para panitia habis-habisan persiapannya, dari pasang umbul-umbul, persiapan tempat, panggung, konsumsi, sampai sablon baju hingga dinihari. Jika tidur bisa nyenyak, itu sungguh anugrah.

~ ~ ~

08.00, Apel pembukaan. Semua lancar terkendali,  masing-masing kepala punya tugasnya masing-masing. Pagi yang cerah namun sayang, tak sempurna tanpa wajah mu. #alah

Siangpun datang dengan cepat tanpa mempersilahkan kami menghela nafas dan berbincang, tiba-tiba saja sudah pukul 02.00, lomba poster berjalan bebas tanpa hambatan, para pemerhati tandu pun sudah meninggalkan tongkat ukur mereka, lomba PP (pertolongan pertama) seperti biasanya slalu selesai agak lambat, dan LCT pun ditubi protes yang pelik tentang babak tambahan yang membuat seorang Abay gak selera makan. Entahlah, ada ap’a dengan temanku.
Masalah hati, jawabnya. sulit dimengerti.

“Seketika aku ikut luka saat kau tersakiti. Lebih dari dugaanmu”.            ...*kode

(cicicuuuuuittt!) #alaaaah

Masalah gak dateng dari LCT saja, biang masalah dari tahun ke tahun selalu di perlombaan PP, dimulai dari protes yang udah mulai gak beretika  tentang transparasi nilai yang menyudutkan saudari Herra tanpa balas, sampai dengan miss komunikasi yang menyebabkan kurangnya piala 2 set.

Suasana seketika kacau sampai balau, membuat sebagian panitia tak bisa berfikir rileks dan memilih ‘lebih baik bunuh diri #part2’ atas kegaduhan ini. Peserta lomba pun naik emosi, naik darah, dan berlaku arogan dengan teriakan-teriakan;

“UuuuuUUUuuuUUUuuuuUUUuuuUUUuuuUUUUuuuUUUUuuuUUUuuuuUUUuuUUUUuuUUUuuuUUUuuuUUUuuUUUuuuUUUUuuUUUuuuuUUuuu....”,

sungguh memecahkan kuping pendengarnya.
Beberapa panitia coba menenangkan para demonstran ini,

“Tenaaaang, Tenaaaaang”. “Tenaaaang, Tenaaaaaaaaaaaaaaaaaang...”.

Suara dua speakerpun teredam oleh satu huruf ‘u’.
“UUUUUuuuuuUUUuu......” ...




“DIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMMMM!!!!!!!!”
Entah teriakan siapa yang keluar dari speaker itu, seketika menyulap para demonstran jadi bisu.


“..................................”


“Bisa tenang semuanya?”.

Oooooh.. ternyata KSR siapa itu namanya (maaf) lupa.

Setelah demonstran bisu, dia pun meluruskan masalah yang terjadi dengan lantang. Demostran pun mendengarkannya dengan hikmat. Sebagian panitia yang down mentalnya pun kembali membaik, setidaknya acara ini tidak berakhir dengan bakar ban bekas, kerusuhan, penjarahan, dan pemerkosaan.

Finally, acara berakhir dengan baik. Pembagian piala pun bisa berjalan tanpa protes, kekurangan piala dijanjikan waktu sampai hari rabu terakhir diterima.

Gue rasa perasaan kita sama campur aduknya setelah hari ini, rasa gondok luar biasa yang gak bisa kebendung, rasa tembelek campur tanah becek.
“Over all, kita panitia terbaik di acara ini”.
(sebuah suggesti kalimat penyemangat, yang memang benar keadaannya. Kita harus bangga agar semangat).

GP belum berakhir, kawan. Tapi masa klimaks telah kita laluin.. tinggal poles-poles sedikit biar GP 6 ini gak jadi ‘cerita cacat’. Perbaiki kinerja, lebih fokus pada tugas masing-masing, gotong royong, dan jaga kepercayaan.

Tetap semangat teman-teman, we are the big familly of ‘ERSTE AUSHILFE’.
 
“Masalah lo, masalah gue”.







Nb :
inget batas akhir hari rabu, semakin cepat lebih baik.

Kalo sempet, kirim surat ucapan terimakasih kepada sponsor-sponsor yang udah berpartisipasi, agar besok-besok bisa bekerja sama lagi dengan mudah.




Terimakasih.

2 komentar:

sibair

hihih nice story bung :D

Daman kadar

terimakasih, Sibair :D

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger