Jaket Gambar Mesjid

Barusan saja, saya berpapasan dengan sekumpulan pengendara motor yang memakai jaket seragam seperti anak klub. “Klub motor?” Sepertinya bukan, soalnya gambarnya bukan motor, tapi masjid. “Ohh.. itumah klub pengajian”. Saya kurang tau, gak pernah ikut soalnya.

Oiya, tidak penting itu klub apa, karena kata orang tua “jangan liat siapa itu yang bicara, tapi dengarlah apa yang dia bicarakan”, jadi orang tua saya tak mempermasalahkan siapa mereka, turun dari langit atau bangkit dari kubur, yang jelas kita sama-sama makhluk hidup, mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Adapun yang saya kagum dari mereka itu adalah karena cuma 2 orang yang pakai helm dikepala, yang satunya menyangkutkan helm di bawah jok, yang lainnya pakai peci putih. Kalo dihitung-hitung jumlah kepala mereka lebih dari dua puluh.

Salah dua dari mereka yang berboncengan di satu motor mengibarkan bendera besar, 2x1meter kalau tidak salah, sepertinya benar. Iya benar 2x1meter bergambarkan masjid. Yang paling depan rombongan memakai tongkat sinar merah untuk mengatur jalan seperti polantas, selebihnya saya kurang jelas.. tak saya perhatikan detail.

Merekapun saya lalui. Bukan karena saya kebut, tapi mereka yang memang berkendaraan malas seperti konfoi. Oiya.. kebetulan jadi ingat kejadian 3 bulan lalu di daerah Gunug Sahari – Jakarta, ada komunitas serupa seperti mereka (mungkin sama atau bisa jadi, beda. Kurang faham). Pada saat itu pukul 10 malam, kendaraan yang melintas sudah mulai sepi, tapi tetap ada polisi yang berjaga di lampu merah perempatan Golden Truely, Polisi yang lumayan berbahaya kalau jam makan, (suka menangkap manusia). ---Kami (saya dan komunitas tersebut) berkendaraan di arah yang sama, tepat di perempatan yang akan kami lalui nanti saya belok kanan, namun sebelum sampai perempatan untuk belok kanan tiba-tiba lampu lalulintas berubah ke warna merah. Dan saya berhenti, mereka tidak, tetap nyelongong seperti tamu yang masuk rumah tanpa dibukakan pintu, saya tetap diam saja, merasa bukan termasuk dari mereka. Okey, Polisi-pun diam, tak segalak jam makan siang, pagi, dan malam. “Polisi takut sama peci,  jaket gambar masjid, dan bendera”, gurauan kecil dari teman saya yang saya bonceng. “kamu takut gak?” saya putar objek. “Lumayan segen sih”, dijawabnya dengan berfikir lama. Mungkin karena saya, ---yang notabenenya saya dan dia tak se-iman.

Balik lagi ke topik awal, setelah mendahului mereka, sayapun berhenti di warung pinggir jalan untuk beli minum, haus. Dan kemudian sayapun tersusul kembali oleh mereka, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Saat berpapasan kembali, saya beranikan diri mepet ke pengendara terbelakang dari iring-iringan ini, lalu membuka helm,
“Kang Aldi ya?”, saya mulai tanya.
“Bukan Mas, kenapa ya?” Akang yang mengendara menjawab bingung.
“Gak apa-apa, habis mirip, sama-sama gemuk”.
“Ohh... orang gemuk mah banyak Mas..”
“Iya, saya pikir juga begitu”, “Itu jaket beli dimana, Kang?” bertanya kepada Akang yang dibonceng.
“Ini bikin, A” Akang yang dibonceng yang jawab
“Di Pasar Uler gak ada yang jual ya?”, pasar uler itu bukan pasar jual uler, yang beri nama saja, bodoh. (Cuma info buat yang belum tahu)
“Gak adaaa atuh A, ini mah gak dijual di pasaaar”
“Di Ramayana juga gak ada gitu?”, Ramayana itu seperti mall kecil (Cuma info buat yang belum tahu juga)
“Apalagi di Ramayana, A.. kenapa emang?”
“Gak apa-apa, bagus gambarnya”
“Ikutan Maj**is aja A, kalo mau jaket kayak gini”, Akang yang mengendara menyarankan.
“Ohh.. Iya, Terimakasih Kang yaaa, saya belok kiri”, memberi tahu sebelum ditanya.
“Oh iyaa.. Hati-hati A/Mas”, mereka serempak ngomongnya.

Sayapun belok kiri, tau kenapa? Pasti gak tau yaa... rumah saya kan belok kiri soalnya. (soal yang sangat mudah bukan?) masa gak tau.

Besok-besok saya mau cari dulu di Pasar Uler jaket kayak gitu, di Ramayana juga, di Carefour juga deh, siapa tau ada KW-2nya... atau kalo kamu (yang baca) punya, dan berniat jual, smsin aja ke saya yah.. nomornya masih yang lama, saya lupa. Kalau mau telpon, telephone ke Telphone rumah saja, disarankan telponnya tengah malam diatas jam 1, biar Nenek saya terganggu tidurnya. Sebab telephone ada di samping kasur. Beneran loh saya berminat sama jaketnya, supaya saya gak perlu pake helm kemana-mana. Berat!

Yang mau nawarin peci putih, gak perlu. Udah punya.


jumat, Mei, tengah malam.

5 komentar:

Rachmat Fudholy

HAHAHA....
itu kan jaket Maj**is Rasulullah
elo mau man???
mesen sama kawan gw mau???

Daman kadar

takut ah makenya, takut ngotorin namanya.

Rachmat Fudholy

hahaha

Runaprilia

Ini bagus. Saya Suka.

"takut ah makenya, takut ngotorin namanya."
(Tidak sarkastik, tapi tepat sasaran) Hohoho..

tokorestu

hehehehe..

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger