Puisi itu membosankan

Entah siapa pujangga pertama yang bikin puisi, kreatifitasnya bikin orang yang lumayan cakep kayak gue ini pusing. Gimana enggak, tiap hari gue baca puisi gak beres dari jejaring sosial yang harus bingung klimaksnya dimana, dari tai kucing yang disulap jadi cinta, dari neraka yang diperhalus jadi surga, dari rentetan panjang jalur percintaan sampai percintaan lagi, dari kahlil gibran sampai kangen band, dari dulu sampai sekarang. Puisi itu berbelit-belit, terbang jauh dari pusat pikiran, lalu menukik tajam. Tapi Itulah seni-nya,

tak diduga.

Jika difikir ulang, puisi tetap saja membosankan. Membaca membosankan, sekolah membosankan, kuliah membosankan, kerja membosankan, olahraga membosankan, jalan-jalan membosankan, sampai seks-pun membosankan. Pada dasarnya, fikiran kitalah yang membosankan semua.. lalu salahkan puisi juga seperti saya tetap tegas beranggapan, “hidup ini membosankan, kita harus berbelit-belit mengumpulkan dosa dan pahala untuk pindah ke surga/neraka”.

Tipar Cakung - Jakarta, 'galau sehabis hujan'.. nunggu kesamber geledek.

2 komentar:

puisikusayang

Kalu bosan.... penanya di banting dan menyelam di samodra... hehehe

Daman kadar

sampean aja yg saya banting, gimana? ahahaha

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger