Kamar Kami

    Masih di kamar yang joroknya minta ampun, tapi biarlah, ini memudahkan saya membiarkan orang lain tahu bahwa ini kamar laki-laki tulen; kotor, berantakan, dan LAKI.
    Hanya tinggal beberapa tikus peliharaan saya yang masih hidup, setelah bulan lalu 'Roy' tewas dengan mengenaskan, gegar otak dibagian dubur karena dibantai oleh nenek dengan sapu bergagang besi secara membabibuta. Sekarang, tinggallah Jessy dan Rani dari keluarga tikus coklat, juga Bobby yang notabenenya lahir di kalangan tikus putih.
    Tak hanya itu, saya juga bertemankan kecoak-kecoak-kembar yang jumlahnya masih saya hitung pastinya, dengan kepala suku mereka yang bernama Albert. "Hey, Albert! you are so cute!". Albert masih malu-malu jika keluar kolong kasur untuk sekedar menyapa, "Hey, Daman!".
    Nyamuk-nyamuk yang mulai punah akibat terserang virus-baygon-dari-nyokap hanya beberapa saja yang suka menemani saya tidur. Dan pastinya mereka berjenis kelamin perempuan karena suka mencumbu saya disegala organ tubuh. "Aww... nakal!".
    Juga semut-semut pemulung yang selalu memakan apa saja yang tersisa di kamar saya, mereka tidak pilih-pilih, termasuk permen yang saya fermentasikan dengan jigong lalu saya lepeh lagi, mereka tetap suka.
    Di kamar ini, kami hidup bahagia, saling menghormati dan menganggap keberadaan masing-masing dengan cinta. Walaupun terkadang saling menyakiti, itu hanya bercandaan biasa yang bisa dibilang karena rasa cinta yang akrab. Kamipun suka menghabiskan makan bersama-sama, membuat saya tak pernah merasa sendiri di kamar ini.
    Dunia 2.5x2.5 meter ini sudah menjadi istana buat kami, dimana tidak ada yang menjadi raja dan siapa yang menjadi babu. Sesekali Ibu selalu membereskan seprai tidur saya, tapi selalu saya larang jika ingin menyapu dan mengepel kamar ini, mereka tidak terlalu suka diusir, dan saya pun tidak terlalu suka sendiri. Saya hanya butuh kehadiran mereka sebagai pelengkap, sebagai pengingat saya bahwa ; Bumi bukan hanya milik manusia, tapi milik semesta. Rasanya terlalu naif jika ingin menang sendiri.

***

"Awwww....!", semut itu menggigit saya tak mau lepas, sudah 20 detik dari tadi, dan akan saya tunggu sampai iya lelah sendirinya. ---Sayapun balas mencekiknya dengan hati-hati, dia harus tetap hidup untuk menggigit saya lagi, ketika saya rindu ingin tergigit lagi.

 
  Selamat malam, Jessy, Rani, Booby, Albert, dan teman-teman lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. "Selamat malam"

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger