Kakekku Kambingnya malang

Malam ini, dingin yang menusuk tulang dan udara yang berhenti meniup-niup. Saya masih di sini, di kamar besar yang hanya ada cahaya-lampu-minyak di atas lemari-pendek ujung sana. Sepi dari suara manusia, namun bingar dengan suara Tonggeret dan Jangkrik yang menggoda Ayam.

Saya masih terjaga, tak terbiasa dengan senyap yang menyumbat telinga, sekedar ingin menyalakan kipas angin agar lebih berisik pun tak ada. Ini bukan Jakarta, pasokan listrik masih sebatas rumah-rumah yang bagus, rumah-rumah mereka yang mampu membeli listrik beserta pernak-perniknya. Kipas-angin ya Allah, gumam saya dalam hati.

Bersama telinga yang mulai budeg, senyap terpecah dari embikan kambing yang meronta, "Mbeeeeeheheeee.. Mbeheeeeeeeeee!", sesekali suara ricuh, "Grabakgrubuuuk! Grabakgrubuuk!", dan seterusnya secara bersamaan yang membuat suasana menjadi tak biasa, "Mmmbeeeheeeeeeee.... Grabakgrubuk! Mbeeeeheeeeeeeheeee!".

Ini pasti gak beres, gumam saya dalam hati lagi. Suara kakek pun mulai terdengar dari kamar sebelah yang hanya berbataskan dinding-kayu-rajutan-bambu, "Aya naon iyeee?", nadanya jengkel seperti menduga maling kambing sedang beraksi, juga suara langkah terburu-buru dari jeplakan sandal-jepit-swalow-warna-hijaunya, "Plak..plak..plak..plak-plak-plak-plak-plak...", seperti setegah berlari.

"Woy Juriig! saha eta?!", suara kakek mengancam di kejauhan. Sayapun bergegas menuju kebelakang rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Buru-buru, tak sempat membangunkan mereka yang lelap tertidur.

"Mmmbeeeheeeeeheee.... Grabakgrubuk! Mbeeeeheeeeeeeheeee!", suara ricuh ini terus berlangsung tanpa jeda.



Sesampainya di pintu belakang yang sudah terbuka, menghadapkan langsung ke arah kandang-kambing-kakek yang berjarak sekitar 20 meter. Gelap banget! Saya segan untuk melangkahkan kaki lebih jauh dari rumah, pohon-pohon besar yang asri di pagi hari tampak sangat menyeramkan malam harinya.

"Bak! Buk! Bak! Buk! 'Gelo! nanaonan maneh, Jurig!' Bak! Buk! Bak! BUk!", suara pukulan kayu terus beriringan bersama kekesalan kakek.

"Ampun Bapa Gede! Ampuuun!.. Bak! Buuuk!.. Mbeeheeeheee!", suara orang lain mulai terdengar selain suara kakek.

"Ngapain maneh!, Gelo!... Bak! Buuk! Baak! Buuk!... Mbeheeeheee", kakek tak henti-hentinya memukul tanpa ampun. Sayapun memberanikan diri berlari ke arah kandang, dan menemukan kakek yang sedang memukul seorang pemuda di kandang kambing.

Tampak cahaya dari samping kanan saya, ternyata dari lampu-minyak yang dipegang Bapak-bapak lainnya yang mulai berdatangan karena keributan ini. ---Mulai ramai, 3 orang bapak-bapak mendekati saya dan berkata, "Aya naon iye Jang?, aya naon?". Lalu keluarlah kakek dari kandang kambing dan menyeret kerah baju seorang pemuda yang tak memakai celana.

"Aya naon, Pa Gede?", salah seorang bapak-bapak bertanya kepada kakek.

"Iye, Jurig. Nga-entot Kambing urang! Gelooooo!!" nada bicara kakek lantang seperti ingin semua orang yang tertidur untuk bangun dan datang.

"Hah?!, Naon?!", "Hah?!" gue dan salah-satu-Bapak-bapak bingung dan rada gak yakin sama apa yang gue denger, seakan minta omongan kakek tadi diulang lebih keras.


"IYEEE! JURIIIG!! NGA-ENTOT KAMBING URAAAAANG!". Tepat, kakek makin lantang dan bersemangat untuk lebih kenceng ngomongnya.

"Waah! Aing maneh teh! Juriig! .......................", Obrolan Bapak-bapak, kakek, juga pemuda tersangka pencabulan kambing-kakekpun terus berlangsung, banyak kalimat yang saya gak ngerti dan tak saya mengerti, dengan kosakata sunda yang hanya hafal seadanya, itu tidak membantu banyak. Sayapun lantas lari ke dalam rumah, membangunkan Mama saya yang ternyata sudah bangun namun dalam posisi tiduran.

"Ma, bangun Ma!, eee.. ada yang nyabulin kambing... di belakang!", dengan suara setengah berbisik, entah kenapa berbisik dan terbata-bata panik.

"Hah? ..... apaan?”

“Ada  yang perkosa kambing... di belakang!"

“Hahhhhhhh?! ... !", Mama bergegas keluar tanpa memakai sendal, dan ikutan panik.

Saya pun bergegas ke kamar untuk mengambil lampu minyak dan minum sebentar, rasa deg-degan belum hilang bersama air di tenggorokan. Aaah! Goblok banget itu orang!!, menggerutu lagi dalem hati. Lalu keluar rumah lagi untuk tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Sudah ramai warga, dalam hitungan detik satu-persatu warga bermunculan, suara kentongan tanda bahayapun dipukul-pukul, entah kerjaan siapa. Tak lama pak RT datang dan menetralkan suasana, pemuda-pencabul-kambing-yang-tidak-akan-saya-sebutkan-namanya-atas-dasar-kerukunan-antar-tetangga itupun diserahkan ke pak RT, beserta orang ronda yang bermain gaple semalaman di saung depan.

Suasana mulai mencair, beberapa warga saksi dan kakekpun ikut bersama rombongan pak RT ke rumahnya.

"Kamu gak usah ikut ya, Jang!", Kakek menghentikan langkah saya yang baru 10 kaki mengikutinya, dengan anggukan kepala sayapun balik arah dan menuju rumah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya disana, saya hanya bisa menduga-duga dan bertanya-tanya sendiri, lalu menjawab sendiri.

***

Pagi, saya bangun telat dan mendapatkan suasana ramai, dari kokokan ayam betina yang sedang ingin bertelur, kokokan ayam jantan yang sok gagah, suara embikan kambing yang selalu terdengar memelas, juga suara Tonggeret dan Jangkrik yang saya perhatikan sudah tak bersuara di pagi hari.

"Ma!", memulai obrolan dengan mama yang sedang ngeteh di bale depan rumah.

"Ya, Man!"

"Kemana kakek?"

"Ngangon kambing, tuh!"

"Cerita semalem gimana lanjutannya?"

"Ya gituu, udah diurus pak RT"

"Ohh, ...", seketika saya malas bertanya, dan menunggu cerita dari kakek saja nanti sore. Lalu bergegas mandi.

Menuju tempat pemandian (empang) yang letaknya jauh dari rumah, saya pun memperhatikan ada satu kambing di kandang yang tidak dibawa kakek untuk mengangon, kambing itu seperti sakit dan tak bergairah, tapi buat apalah juga saya pikirkan kambing itu kenapa, karena saya harus segera sampai empang sebelum matahari mulai panas dan nyebelin.

***

Sore hari, sepulang kakek mengangon kambing, iya memanggil saya dan menceritakan semua hal yang terjadi tadi malam, dengan penuh ekspresi dan penghayatan yang tak dibuat-buat, dengan gaya seorang ayah yang bercerita kepada anaknya, sarat makna dan penuh nasehat;

Tentang seorang pemuda yang putus cinta, dengan kegalauan luar biasa dan sakit hati.
Tentang seorang wanita yang lebih memilih lelaki kaya, untuk menikahi uang bukan menikahi cinta.
Tentang cinta yang memabukkan, juga logika yang terlepas dari ambang batas.
Tentang seekor kambing yang terganggu jiwa dan mentalnya sebagai kambing yang suci.
Tentang seekor kambing yang juga ternyata tidak suka dinodai!.
Tentang seekor kambing yang akhirnya terjual untuk mendapatkan maaf dari kakek dan perdamaian antara keluarga.
Tentang pengorbanan seekor kambing yang setelah diperkosa lalu difitnah.
Tentang seekor kambing yang akhirnya dipotong karena dianggap kerasukan setan dan jin, yang membuat laki-laki-sableng jatuh cinta, hingga berakibat memperkosanya.
Tentang wanita-wanita yang akhirnya ilfeel dengan pemuda pencabul kambing.



"Iyuuhhhhh!!! Rendah banget selerenya!, untung gak dioOOoral kambing... dan disangkaaaaa.... 


"Pisang dan Rumput!"






(in Memoriam, Rijan, Kakekku)

3 komentar:

Jeje

huahaha hiks
kalimat di atas itu sebenernya gak ngerti harus pasang ekspresi gmn. sedih atau NGAKAK ! :D

iffa alfian

=,=
ini cerita beneran apa fiksi mang?

Daman kadar

Jeje. gak harus, masih bebas gimana aja :D

Iffa. Ini beneran Fa. kejadiannya waktu gue SD

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger