Bumi Masih Bisa Sembuh

Sebagian besar penduduk Jakarta adalah pendatang. Termasuk gue yang berasal dari Subang - Jawa Barat. Di Indonesia sendiri, menjelang hari raya Idul Fitri, selalu ada kegiatan pulang kampung atau yang biasa kita sebut ‘mudik’ ---untuk para perantau yang bertandang ke luar kota kelahirannya.

Entah kenapa dinamakan 'mudik', mungkin itu singkatan dari 'MUlihlah, DIK!' (pulang dong, dek! *bahasa jawa*), atau... 'MUka nDeso, Iki Ketek!' (Muka Desa, aku ganteng! *bahasa AGJ*), atau jugaaa..... . --What ever!, buat apa juga kita tau asal-muasal kata 'mudik', yang terpenting kan mengerti artinya. Cukup.

Sebelum mudik besar-besaran, tepatnya sebelum hari raya Idul Fitri, biasanya semua orang sibuk nyari baju baru, sepatu baru, ataupun pacar baru. Tapi enggak buat gue, gue setia nemenin si Pesek (pacar) pergi ke Tebet buat nyari baju baru buat si Iam (adeknya). Disini gue cuma nganterin. Ya, nganterin, tanpa belanja satu helai pun. --- Bukan karena gak punya duit , ya! (catet!), tapi, gak, bawa, duit.

Dompet?, ada!


Lingkungan dan Generasi Penerus

Sepulangnya kami bertiga dari tebet, ngelewatin kali kotor yang banyak sampah, pemukiman padat penduduk, juga orang-orang yang masih aja punya pemikiran buat bakar sampah, akhirnya kami sampai rumah. Tampak seorang ibu-ibu berdiri di depan teras... Tinggi gemuk besar, wajahnya asing, siapakah gerangan???

(Oh, itu mertua gue!).

Ibu mertua langsung membanjiri kami (Iam) dengan omelan. "Kemana aja si lu, Am? banyak PR juga! Kelayapan mulu! Besok sekolah!"

"Lah, Iam diajak Mpok Anggi tuh, beli bajuuuuu!"

Karena merasa bersalah, gue dan Pesek pun ngebantuin Iam ngerjain PR-nya. Kita buka-bukalah semua buku pelajaran dan buku tulisnya Iam.

Gue buka buku-tulis-warna-coklat Iam yang campur aduk, entah mata pelajaran apa, semua ada didalemnya. Beberapa nilai dari gurunya jarang banget yang dapet nilai 100. Untuk Sekolah Dasar kelas 2, biasanya soal-soalnya adalah mudah kalo baca dan dengerin apa yang Gurunya bilang. Alhasil, gue baca juga soal-soal dan jawaban yang agak sedikit rancu, atau nggak matching menurut undang-undang persekolahan. Diantaranya;

*1. Sebelum makan, kita harus mencuci? * "Kaki"

*2. Agar tidak busuk, ikan-ikan harus di...? * "Buang"

*3. Kita harus membuang sampah di...? * "Kali"

*4. Sebutkan 3 hal yang membatalkan sholat! * "Pipis, beol, tidak boleh becanda"

*5. Apakah tugas malaikat Jibril? * "...(jawabannya kosong)". ---Akhirnya gue nanya ke Iam, "Am, kok yang ini jawabannya gak ada?"

"Iam gak tau, Om!"

"Coba sana tanya mama!" gue pun nyuruh dia nanya ke Ibu mertua.

Dari kejauhan, masih terdengar jelas pertanyaan Iam ke Ibu mertua. "Ma, tugas malaikat Jibril apa Ma?"

"Masa gitu aja gak tau? baca dong buku pelajarannya!". Si mama sewot

"Aaah, Males ah Iam! Apaan sih maaaa?". nada-ambekan-anak-bontotnya keluar.

"MENYAMPAIKAN WAHYUUUUUUU!". Si mama makin sewot

"Lah?, ... Emang Wahyu-anaknya-Pak-RT-itu malaikat ya Ma?"

"ILHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAM!!!!!"

***

Pasca mama teriak barusan dan ngomelin Iam supaya 'banyak belajar dan jangan sering main'. Gue sama Pesek pun nggak kuat nahan tawa, akhirnya keluar dan nghabisin ketawa dengan berantakan, di teras. Lalu sedikit sharing masalah Iam.

Sebenernya gak ada yang salah dari jawaban Iam. Semua emang seperti itu di sini;

* Sebelum makan, kita harus mencuci? * "Kaki". (Sebelum makan, Iam memang disuruh cuci kaki sama Mama, karena habis main di luar dengan nyeker (telanjang kaki)).

* Agar tidak busuk, ikan-ikan harus di...? * "Buang". (Iam emang memelihara ikan Cupang, dan setiap ikan itu mati, mama selalu menyuruh dia untuk membuangnya agar gak bau karena busuk).

* Kita harus membuang sampah di...? * "Kali". (Ya begitulah disini, apa yang dia lihat adalah apa yang dia tulis. Karena banyak yang masih membuang sampah di kali dekat rumahnya).

* Sebutkan 3 hal yang membatalkan sholat! * "Pipis, beol, tidak boleh becanda". (Ya memang begitu juga saat dia shalat di Mushola deket rumah, Pak Haji selalu bilang sebelum shalat, "Anak-anak jangan pada becanda, batal loh nanti sholatnya!")

* Apakah tugas malaikat Jibril? * "..." .

Dan gue sekarang tau, WAHYU emang anaknya Pak RT!!!

***


Well, Iam adalah salah satu generasi penerus mendatang, ia hanya mencontoh apa yang ia lihat. Kita lah yang bertanggung jawab mencontohkan mereka sesuatu yang baik. Jika kita menjaga lingkungan sekarang, merekapun akan menjaga lingkungan untuk esok hari.

Sesederhana itu.


Bumi Rumahku

Gue adalah salah satu anggota dari perkumpulan kecil pecinta alam. Ya, sangat kecil untuk bisa dibilang sebagai perkumpulan karena anggotanya pun cuma 12 orang. Tapi itu tidak masalah, selagi kita punya hobby dan tujuan yang sama.

Lebaran ini kami berniat pergi ke Jogja, karena kebetulan tidak ada yang punya kampung di sana. Jadi resmi, kami adalah bolang (bocah ilang) yang gak tau apa-apa.

H+2 (dua hari setelah Hari Raya), kami berangkat. Niat menggunakan mobil yang semula kami sepakati akhirnya batal. Kenapa? karena ada alasan-alasan kuat yang  memang benar :
- Kami hanya akan memperburuk lalu lintas dengan menambah jumlah mobil,
- Kami akan membuang bensin banyak karena gak tau arah,
- Kami baru-baru saja menonton TV tentang pemanasan Global. Nggak ada salahnya ikut serta meminimalisir pemanasan bumi dari hal-hal yang kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang.

Ngomongin tentang pemanasan global, gue jadi inget tentang postingan temen, kemarin. Dia cerita tentang seorang politisi yang pernah berkata saat kampanye dulu;

"Tangan saya kecil, tangan anda juga kecil, ...dan tangan seluruh rakyat Indonesia juga kecil. Namun bila tangan-tangan ini bersatu, gunung pun bisa kita geser!"

Lebay banget emang, tapi.... pesannya kuat banget. Disini, pemanasan Global gak bakal bisa diatasin seorang diri, tapi juga gak harus kita tunggu sampe rame-rame ngelawannya. Inget kata pepatah? "Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit", kesadaran manusia juga begitu, gak langsung semuanya sadar dan bisa peduli. Seperti yang abang gue pernah omongin dulu;

"Kita harus melakukan apapun yang kita bisa, dengan kekuatan kita, untuk memperlambat global warming sebelum itu terlambat. Ilmu pengetahuan sudah jelas, debat masalah global warming sudah berakhir". (Arnold Schwarzeneger. Gubernur Negara Bagian California, Aktor)

Lalu apalagi yang kita tunggu untuk mulai go green dan menjadi warga bumi yang baik?

kota gersang dengan penghijauan yang minim

***

Jogjakarta Bercerita

10 jam lebih kami didalam kereta ekonomi, penuh sesak dan jauh dari kata 'nyaman'. Berangkat dari Stasiun Senen pukul 10 malam, dan akhirnya sampai Stasiun Lempuyangan pukul 09 kurang.

"Jogjaaa! Jogjaaa! Jogjaaa!". Suasana yang jauh berbeda dengan Jakarta, udaranyapun masih manusiawi untuk dihirup. Kami berjalan dari Stasiun Lempuyangan sampai Malioboro untuk mencari penginapan, tidak terlalu jauh bagi pemuda-pemuda yang gak mau dibilang cengeng ini.

Malioboro oh Malioboro, setibanya kami disini, semua kaget. Harga makanan disini nyekek leher semua, juga penginapan yang harganya naik 100% saat liburan besar, pun walaupun mahal, tetap saja susah mencari kamar yang kosong.

Sampai pukul 12 siang, kami baru mendapat tempat. Lalu menidurkan diri untuk aktifitas malam dan esok hari.

***

Esoknya, kami pergi ke Candi Borobudur. Ruaameeeee banget! pintu masuknya aja ngantri banget kayak Dufan lagi diskon. Tapi semua itu terbayar setelah kami masuk dan tahu, inilah salah satu keajaiban dunia yang patut dibanggakan. Gimana enggak? bangunan seindah ini cuma berasal dari batu-batu yang ditumpuk. Kurang kerjaan banget orang-orang zaman dulu, mahatin satu-persatu batu hingga semua batu yang nampak adalah relief yang punya cerita. Sebagai mahasiswa jurusan arsitek, jujur, gue ciut. Ngegambar detailnya aja gue gak sanggup, apalagi ngukir?. What??? lu aja deh!

Luar biasa teliti, kreatif, dan sabar.


Puas nikmatin Candi Borobudur, kamipun bergegas pergi ke taget object selanjutnya. Di pintu keluar, gue ngupingin bule yang lagi ngobrol sama istrinya. "It's so HOT, right? It burned my skin!"

Hellooooo! yaeyalah panas! gak pernah nonton Tipi apa? tapi kalo kita cuma ngeluh-ngeluh panas juga gak bakal jadi dingin, Kaleee! . (cuma gerutu dalem hati, gak bisa ngomong bahasa inggrisnya!)

Hari sudah petang, kami buru-buru pergi ke Gunung Merapi, mengejar waktu karena pintu masuk ke atas sana akan ditutup pukul 06.00. Merapi adalah Lokasi ke-dua yang ingin sekali kami kunjungi pasca gunung meletus kemarin, itu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan yang ingin sekali dijawab oleh mata-kepala sendiri. Bagaimana keadaan disana?


bekas lokasi rumah Mbah Marijan

Sesampainya kami di kaki gunung, banyak rumah-rumah hancur, juga debu-debu vulkanik yang masih tersisa. Ini bukan debu lagi namanya, tapi kota abu. Hampir semua rumah tidak berwarna, juga pohon-pohon yang hangus, tumbang, rata dengan tanah. Keindahan Merapi yang gue bayangin udah ilang, realitanya berbanding terbalik dengan apa yang sering gue gambar di kertas. 




Tapi semua belum berakhir, tunas-tunas muda masih harus tumbuh, masih harus ada generasi penerus yang melanjutkan. Dan kita masih bisa memperbaikinya lagi, sebelum terlambat.

4 komentar:

Anonim

gokil bro...

Daman kadar

terimakasih :)

anggita

tugas besar untuk kamu (arsitek) , untuk membuat rumah yang aman untuk bumi kita :)

Daman kadar

-_- *mulai terpikir buat rumah ajaib, nih*

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger