Susahnya Nulis Bergenre Humor

Kenapa Blog ini jarang posting?

Mungkin banyak yang nanya kayak gitu dalem hati (sebenernya sih nggak ada). Gue ulang pertanyaannya; ‘kenapa blog ini jarang posting?’ well, gue perhatiin blog-blog yang mengusung genre humor (komedi) emang jarang-jarang posting, dah. Mengapa demikian?

Nulis komedi itu lebih susah daripada nulis novel atau berita, karena saat nulis komedi; patokan cerita itu harus berbuah lucu, ya minimal bisa dibilang 'penyegaran'. Kalo nulis berita, kan;  ya apa yang kita tulis emang harus berbuah informasi, sedang menulis novel; harus berbuah cerita yang indah (nulis novel lebih susah, deng. Jarang orang yang berani posting tulisan-genre-humornya, karena setelah ditinjau ulang ternyata menurut dirinya sendiri ‘tulisan ini nggak bagus’, yang pada akhirnya hanya masuk  ke folder ‘Draft kampret’. *curhat*

Ada beberapa faktor yang selalu bikin gue gagal kalo mau posting:

Perasaan

Dalam nulis komedi, patokan lucu itu harus dibuat sendiri, semakin tinggi selera humor - semakin baik, karena jikalau selera humor si penulis lebih rendah dari selera humor si pembaca, hambarlah sisi humor yang ingin disampein. Penyampaian makna 'lucu' itu sendiri beda-beda, ini dia susahnya, selera humor masing-masing orang itu nggak sama, ketika ada sebuah lawakan yang menurut sebagian orang adalah lucu, belum tentu lucu juga untuk sebagian lain. Ibarat kata; ngelawak itu bukan ilmu matematika (pasti), tapi .............. masalah perasaan. ...........(Hati).

*pegangdada*

Dan kadang, gue rada ngedown kalo yang baca blog ini selera humornya tinggi, pengen tutup akun aja rasanya. Walaupun pada akhirnya.... ‘gak jadi deh, sayang udah bayar 100rebu/tahun untuk nama domain’.


Proporsi yang pas

Untuk ngelucu, proporsi kalimat yang digunakan harus pas, nggak berlebihan dan nggak kedikitan. Kalimat yang berlebihan bisa memperlebar sudut pandang ke inti kalimat, sehingga jadi hambar. Sedang kalimat yang kedikitan berakibat kurangnya informasi untuk mendukung maksud kalimat, sehingga jadi................ *krik-krik*. Dan nyatanya; butuh (minimal) 20x baca ulang naskah setiap gue mau posting. Cape nggak sih? Biasa aja sih, orang keren nggak boleh ngeluh.


Irama membaca

Dalam membaca, setiap orang punya iramanya masing-masing; seperti apa yang sudah kita makan di bangku SD waktu dulu, pas pelajaran Bahasa Indonesia, pastilah ada kalimat seperti ini;
"Ibu pergi ke pasar."
Berasa nggak, ketika kita membaca kalimat diatas, ada irama yang ngalir dalam kalimat itu? Dan percaya nggak percaya; setiap orang punya irama yang beda-beda, ada yang ngebut, ada juga yang mendayu-dayu kayak lagi dilaguin. Tapi untunglah waktu dulu kita diajarin oleh satu irama, semua guru lulusan PGSD itu sepakat menggunakan kalimat "Ibu pergi ke pasar" dengan ketukan "Ibuuu pergiii keee pasar". Walau penjelasan ini nggak ngasih solusi apa-apa buat gue pribadi, tapi percayalah; "semakin banyak irama pembaca yang kita pahamin - semakin mudah kita untuk menyampaikan pesan dalam menulis".


Stuck inspirasi dan nyerah

Gak jarang (sering banget) dalam nulis itu kita berhenti di tengah jalan, mulai dari kehilangan arah, tujuan akhir yang bercabang, nggak nyambungnya satu paragraf ke paragraf lain, sampai pada kelupaan pokok pembahasan karena terlalu ngimprov. Nyerah adalah jalan pintas, dan edit-mati-matian adalah ngebuat jalan baru. Pilih mana? Kalo gue sih pilih yang gampang.

Finaly....

(Biasanya kalimat ‘finaly’ juga buah akal-akalan daripada kehabisan ide. ‘Nggak mau berhenti di tengah jalan’ --itu berarti garis finish harus dipercepet)

Yang pada akhirnya.......... dipermanis dengan sebuah penutup kesimpulan kecil:

Untuk nulis komedi itu nggak perlu dipaksain, kalo mau maksain juga nggak apa-apa sih sebenernya, tulisan tulisanlu sendiri kok orang yang ngatur? Ya terserah elu donk!
Satu aja moto nulisnya;
'Kalo ada yang suka - ya syukur, kalo nggak ada yang suka - ya nggak syukur'. Nggak bisa dipaksa. Terlalu bimbang sama pendapat orang lain pun nggak ngasih solusi apa-apa. Nulis itu bebas, sebebas komentar yang akan diterimanya nanti.




"Selamat pusing, saya sendiri."

"Sama-sama"

2 komentar:

Nanta

iya man, yg keren gak boleh ngeluh..

syahrir hakim

Sy pengen baca salah satu tulisan yg bergenre humor

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger