BB

Kadang, untuk merasakan apa yang sebenarnya kita benci adalah ikut menikmatinya. Tidak selalu buruk. Setiap orang memang selalu punya pandangannya akan sesuatu, dan yang sering dilupa adalah bahwa kata 'Setiap orang' adalah 'bukan hanya diri sendiri', tapi jamak. 'Sendiri - sendiri'. *pusing gue nulis yang simpelnya kayak gimana*

Dari zamannya BlackBerry yang lahir pada tahun 1997 oleh sebuah perusahaan Kanada bernama RIM (Research In Motion), gue paling benci sama henpon ini, selain dari sisi gue-nya yang nggak sanggup beli, juga karena gue nganggep pengguna BB itu norak!, alay!, Kamsupay!, dan... pedagang!. Di sisi lain, gue juga menganggap pengguna Blackberry itu mulai terkena penyakit kesenjangan sosial, ketika SMS gue jarang banget dibales dengan alesan; "Gue nggak ada pulsa, Elo pake BB dong, biar pake BBM-an aja", dan giliran gue telepon, alesannya muncul lagi; "Elu teleponnya jangan lama-lama dong, gue mau bales BBM nih!". You know lah, akhirnya gue mikir dan percaya bahwa Blackberry membawa pengaruh buruk terhadap interaksi sosial masyarakat Indonesia. Dengan data penguat sebagai berikut; Para pengguna BB sejati selalu nghabisin 10 jam hidupnya dalam sehari dengan muka mantengin henpon, bahkan saat makan, that's true!. Makannya gue paling males kalo makan rame-rame sama temen kantor. Gue akan selalu merhatiin mereka yang lagi mainin henponnya, sedang gue sendiri akan merasa dicuekin dengan tidak hormat. Nggak punya BB!

Kebencian gue akan Blackberry pun kian memprihatinkan, dari mendelete semua kontak telepon yang sekarang udah menggunakan BB, sampai ngeblock siapa aja yang di Facebook atau Twitter terlihat membawa-bawa icon Blackberry. 'Teman adalah teman, benci tetep benci'. Kita tetep membenci walau harus berteman. Ini masalah keyakinan, masalah hati, masalah keyakinan gadget. Takkan pernah ada toleransi.

Masuk ke era keemasan N70gue yang mulai sirna, mulai dari keypad yang hilang huruf-perhuruf sampai gundul, juga dari batre yang awalnya ramping kemudian menjadi gemuk. Percis si pacar. Iya, dulu dia ramping. Dulu. Sudahlah tak perlu dibahas. Memprihatinkan. ---Kondisi N70-obesitas ini memaksa gue untuk ganti henpon biar tetep dikata 'gaul', ya... kegaulan seseorang di Rawa Mangun Jakarta-Timur diukur dari gadgetnya. Semakin canggih gadget seseorang, semakin nggak keliatan tampang aslinya.

Sudah 5 bulan berlalu untuk ngumpulin duit, dompet gue tambah tolol. Masa' 5 bulan udah abis, tapi nggak ngumpulin apa-apa, gak berguna banget sebagai dompet yang biasanya digunakan sebagai 'penyimpan uang'. Sampe akhirnya gue ikut benci dengan ini dompet dan menggantikannya dengan dompet baru (dibeliin si pacar) pas ulang tahun kemaren. Hingga akhirnya dibulan ke-6 ini duit gue terkumpul (dengan catatan; nggak bayaran kuliah) buat beli HP baru. Rencana awalnya gue bakal beli Samsung Galaxy Note, tapi kemahalan, budget cuma 1 juta, dengan kata lain tidak ada pilihan selain Samsung Galaxy Young, yang harganya emang masih berkutat di 1 jutaan. Deal! Besok beli.

1 hari sebelum mimpi-beli-henpon gue terwujud, gue maen ke rumah pacar. Ya... gue emang bukan penganut faham 'malem mingguan', karena kata Twitter; 'pacaran yang baik adalah di malam jumat, sunnah'. Entah kenapa gue pun setuju. ---Sesampainya di rumah pacar, ada kabar baik dan kabar buruk. Baiknya; 'Bang Imam (Abangnya) mau jual henpon yang baru dia beli 3 bulan, dengan harga setengahnya', buruknya; 'Henponnya berjenis kelamin Blackberry!'. "Aaaaaarrrrggghhhh!..................................yaudahlah gapapa, itung-itung metode pendekatan sama calon kakak ipar" , dalem hati.

Singkat cerita, Akhirnya sekarang gue megang BB, Ehm! (#batuk28E75D17) iya BB. Ini emang keajaiban dunia, yang biasanya gue ganti henpon setiap 1 kiamat sekali, akhirnya ganti henpon sebelum kiamat. Rasa bimbang pun melanda, gue yang mengutuk Blackberry agar bangkrut secepatnya dan mendoakan Nexian booming, akhirnya megang BB, dan berdoa agar doa gue sebelumnya bisa dicancel.

2 hari gue megang BB tanpa kontak pin temen, bukan karena apa-apa, ada perasaan  janggal yang ngebuat gue merasa gimanaaaa... gitu. Ini bukan gue banget:

"Ya, Tuhan! Gimana caranya BBMan!!!?"





Minggu sore, setelah jam kuliah habis, gue nyamperin anak-anak di kantin untuk... bisa dibilang mau pamer sekalian minta pin, tentu aja, dengan memberi henpon ini ke mereka, biar mereka yang isi kontaknya sendiri. Gue kan masih awam.

"Guys, minta pin, dong!". SKSD ala FTV

"Yaudah, Man. Ketik!"

"Lu aja nih yang ketik, gue mesen kopi dulu, nanti puterin ke yang laen ya!"

"Oh.. oke dah!". rencana awal berjalan mulus. Gue pun mesen kopi yang lama biar selesai semua. Lalu balik lagi ke meja.

"Udah?"

"Udah, nih, nanti gue masukin group Arsitek ya kalo belom penuh".

Selang beberapa lama,

"MAN, ACEP DULU!" 

"Acep apaan si?"

"ACEP KONTAK GUE!!"

"KONTAK APAAN!?!"

"BBM GUE!!!"

"GIMANA CARANYAAAA!!!"

"PENCEEETTT!!!"

"PENCET APAAAANYAAAAAA!"

"PENCET ITUNYAAA!"

"ITUNYA TUH APAAAA?!"

"ANUNYAAA!"

"ANUNYA APA LAGI ITUUU, GAK NGERTI GUEE!!!"

"TITITLU PENCEEEETTTT!!! AH!"

Seketika cewek-cewek di kantin yang mayoritas Ibu-ibu memandang sinis. Terangsang mungkin. ---Akhirnya gue les privat dulu untuk bisa BBM-an sama mereka, dengan cara ngajarin yang males-malesan. Hidup memang kejam, sulit buat pendatang baru untuk disambut dengan baik. Terima aja.







Perlakuan buruk pun gue terima di jejaring sosial, nggak ada yang percaya kalo gue punya BB sekarang. Dan andaikan ada yang percayapun nggak ada yang rela ngeadd pin gue walaupun udah promosi gencar-gencaran. Sebelum akhirnya gue mohon-mohon; "add pin gue yaw :3". Rendahan sekali.

Bisa karena biasa. Pepatah ini emang gak pernah salah, sekarang gue udah mahir dan temen kontak gue juga udah lumayanan banyak karena ngemis-ngemis minta invitin. Kalau dilihat dari sejarah awal, ini berkesan; 'Ngejilat ludah sendiri', but, it's okey.. rasanya ngejilat ludah sendiri itu kayak 'ngejilat ludah sediri', gak ada yang 'WAH!' untuk dibesar-besarkan. Dulu juga gue benci sama JB, Jupe, DP, Suju, dll, tapi sekarang hampir bertolak belakang semua.... sampe-sampe gue tergabung dalam anak ELF (Ever Lasting Friend) yang kayak maho tapi nggak sadar gitu. Dan kemarin sempet uring-uringan nggak nonton konser Suju sampe males makan.

Seperti di paragraf awal; 'Kadang, untuk merasakan apa yang sebenarnya kita benci adalah ikut menikmatinya'. Tidak selalu buruk, bahkan memang tidak buruk. Pun demikian dengan BB. Tak kenal maka tak sayang. Makanya  'kenalan'.


~~

























...


Sekarang giliran si pacar yang sedikit gelisah dengan mengeluarkan statemen ini berkali-kali;

"Aku sebenernya takut deh kalo kamu megang BB, takut kamu ganjen-ganjenan sama cewe laen!"




That is!

"Mempunyai pacar ganteng emang resiko banget. Terima aja."

5 komentar:

Nanta

hahaha, kampret lu man..

ola

pacar gw jg ganteng man, tp ga ganjen kok. wkwkwkwkwk
selamet ya yang udh punya bb, semoga tu bb gunanya ga cm buat bbm doang. :D

Daman kadar

:D


pacarlu ganjen! ga keliatan aja ganjennya :p

emang gunanya bb selain bbm apaan?
foto? jelek
internet? lemot
musik? lumayan. udah itu doang.

*runrunphii

jadi lu gitu ya man sekarang ya.. malesin.. :(
etapi emang bener sih, jangan terlalu benci sama sesuatu deh, ntar ketulah.

Daman kadar

so sorry mpud, lu bukan temen gue lagi sekarang.

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger