Matematika


Semakin menjauh semakin didekatkan

Sekarang, gue akhirnya bener-bener yakin kalo bumi itu bulet. 'Ketika gue ngejauh akan suatu hal, sesungguhnya tanpa sadar itu akan mendekatkan gue sendiri kepada hal tersebut dari sisi lain'. Dan seharusnya mereka yang berkata ini benar; 'Jarak terjauh aku dan kamu adalah saat aku disampingmu'.



Matematika

Stop dulu pelebaran alur ceritanya, intinya ini bukan masalah cinta, tapi lebih rumit dari itu, ini masalah Matematika. 

Awal mulanya, adalah dari message seorang temen yang meminta bantuan gue untuk jadi pengajar di lembaga sekolah kejar paket C, disana adalah tempat sekolahnya anak-anak yang gagal lulus waktu SMA dan milih nggak lanjut dalam waktu lama, atau juga anak-anak yang kekurangan biaya untuk bisa lanjut sekolah ke taraf SMA. Maka dari itu, sekarang jalannya mereka bangkit, lewat lembaga yang bisa dibilang loyalitas masyarakat yang peduli akan pendidikan, hingga guepun masuk dalam lingkaran kegiatan lembaga tersebut.'Rumbel Graha Dika'.


Hari pertama gue ngajar. 

Selesai gawe, gue berangkat ke lokasi yang jalurnya emang searah pulang ke rumah (Komplek TNI deket terminal Tanjung Priuk). Sesampainya disana, gue terlambat, namun murid-muridnya juga belum datang, maklum, mayoritas dari mereka juga pekerja, bahkan beberapa diantaranya sudah berkeluarga dan punya anak. Inilah kenapa gue ngerasa kalo mereka tuh bener-bener sungguh-sungguh mau belajar, mau maju, dan gue nggak boleh kalah dari mereka.

Di depan 'Sekolahan' atau bisa dibilang Posko Serbaguna, dengan sedikit basa-basi kecil, Ica (@Mariscch) langsung nyodorin materi ngajar full version 'Matematika IPS Program Paket C' yang harus gue selesaikan sampe akhir pertemuan sebelum mereka ujian. Berbekal ilmu gaib (nekat ngajar), gue pun mempelajarinya sebentar...

"Bismilahirrohmanirrohim" Dimulai dengan bismillah dalem hati,

........

......

....

..

Diakhiri dengan... "ASTAGFIRULLAHALADZIM!"

"Tuhaaan, gue nggak ngerti!"


Penguasaan materi Matematika gua emang expert, tapi sebatas level SD. Sedang dulu, waktu jamannya SMA (STM), pelajaran matematika  gue alih fungsikan jadi pelajaran nyatet. Sampai suatu ketika gue pernah dipanggil kedepan kelas sama guru karena tugas yang gue kumpulin beda sama yang lain, lain dari pada yang lain, dan paling indie daripada yang lain...  

"Kamu ngerjain tugas yang mana sih?!" Tanya Pak Asep, heran.

"Mmmm yang itu, Pak?" Karena nggak ngerjain sendiri, gue bingung dan ngebawa buku gue kebelakang kelas, buat disamain dengan hasil tugas temen yg gue contek.

Dan....., "kok beda ya?" bisik nurani dalem hati. Gue pun masih sibuk nyari letak kesalahannya dimana 'kok bisa beda'. Sampe akhirnya gue buka bukunya dia yang satu lagi.

"AAANNNNNNNZIIINGG!!!" Yang gue catet itu coret-coretannya dia!



Inilah kenapa gue ngelaknat banget orang-orang yang jago matematika, tulisan mereka tuh nggak pernah rapi! TUGAS SAMA CORET-CORETAN BENTUKNYA SAMAAA!!! PENIPUUU!!!



~~~ 

Back to ngajar. 

Materi pertama gue diawali dengan pelajaran Logika, Negasi (Ingkaran), Pernyataan,  Konjungsi, Disjungsi, Implikasi, Biimplikasi, dan Pernyataan Majemuk. Untuk orang pinter taraf International kayak gue, yang IP-nya pernah ngelebihin angka 4, ini unpredictable banget, boro-boro ngertiiiiiiiii, inget aja enggak! Terus harus ngajarin apaaaaaaaaaaa?

Beruntunglah, gue sedikit jago ilmu hitam (ngeles!).



The Power of Ilmu Gaib

Dalam hitungan 30 menit lagi, gua ngajar. Situasi ini lebih extreme ketimbang SKS (Sistem Kebut Se-jam). Di lain sisi, si Ica pun lagi ngajar sejarah dengan mudahnya. Mungkin karena dia nguasain materinya, atau boleh jadi, dia juga ngarang sejarah itu sendiri. Karena menurut gue, Sejarah itu cuma masalah keyakinan, sebagaimana halnya Amerika yang mengaku telah mengalahkan Viet Chong dalam perang Vietnam pada Film Rambo, atau juga buku-buku yang menyatakan bahwa Amerika yang kalah. Buat gue sendiri, sebagai contoh laki-laki korban Telenovela, yang menang tetep Vietnam, Jagoannya tetep Rambo. Karena jagoan nggak harus selalu menang, tetapi berbuat baik. 

Akhirnya Ica selesai, setelah diteriakin ibu-ibu lembaga untuk berhenti ngajar dan mempersilahkan gue masuk. 

Canggung. Gue belom pernah ngajar 1 lawan banyak, biasanya 'one by one', rasa gugup dan gagap pun gue alamin setelah semenjak baru lahir belom gue alamin lagi. Iya, terakhir gue ngerasa gugup adalah ketika gue baru lahir, gugup nentuin mana yang adalah nyokap, dan mana yang dukun beranak. Mereka berdua susah dibedain.

Masa perkenalan pun dimulai, "Hallo, nama gue Daman. Panggil aja Daman!". Kata-kata ini keluar dari hati banget, nggak pake persiapan, karena harusnya gue lebih wibawa sebagai guru dengan menggunakan kata 'Saya'.

Mereka pun hening, dan cuma beberapa yang menyahut "Selamat malam, Pak Daman!"

Untuk mengulur-ulur waktu dan memperpendek jam gue ngajar, gue pun memberi umpan untuk memperlebar waktu perkenalan, "Ada yang mau bertanya?"

"......" ada beberapa yang geleng-geleng, ada beberapa yang cuma bengong. Mungkin emang aura ketampanan gue lagi nggak keluar, jadinya nggak ada satupun diantara mereka yang tertarik untuk nanya 'nomor HP, alamat rumah, pacarnya berapa, gajinya berapa, atau ukuran celana dalemnya berapa'. Interaksi yang begitu kaku ini mempersulit gue untuk lebih cair, tapi gue selalu inget akan satu hal...

'untuk mencairkan suasana, ajak lawan bicaramu tertawa, meskipun dengan cara senista apapun'.

"Yuni!"

"Saya pak!" Gue mulai ngabsen kehadiran mereka satu-satu.

"Arman!, Niar!, Irma!, Jamaludin!, Sahid!, Yusuf!, Syuman Jaya!, ..." Dan lain-lain (gue nggak hafal).

Setelah ngabsen, gue pun bingung mau ngapain lagi. Berbekal 1 modul dan selembar materi ngajar, gue pun mulai ngajar.

Pada dasarnya bukan gue doang yang nggak tertarik sama Matematika, tapi mereka juga. Berdasarkan pemikiran itu, maka gue ubah cara pandang matematika pada Bab I ini jadi soal cerita.

Matematika itu masalah logika, bukan perasaan, ketika mereka menangkep apa yang gue ceritain, niscaya mereka bakal tau apa jawabannya.

Bener, ini lebih mudah ketimbang ngasih rumus 3x + ee = berak. Tapi nggak semua permasalan matematika bisa diceritain lewat kata-kata. Matematika tetep Matematika, isinya pasti berujung angka.

Untunglah di dalem modul ada yang namanya latihan tugas, maka gue tulis aja latihan tugas itu di papan tulis, lalu suruh mereka mengerjakan. Tentu setelah gue jelasin caranya (sedikit).

Setelah nulis dipapan tulis, gue ngasih waktu beberapa menit kepada mereka untuk menyelesaikannya, sedang gue sendiri liat-liat modulnya lagi sambil belajar. 

Sampai kepada beberapa menit setelah gue nulis latihan, gue liat lagi kunci jawaban di belakang modul.

"YA ALLAAAAAAAAHHHHH! Kunci jawaban macam apa pula ini? soalnya ada 10 nomor, jawabannya ada 15 nomor!"

"YA ALLAH GUSTI PANGERAAAAAAAN! soal latihannya itu jawabannya essay, ya Allah! bukan a-b-c-d-e!"

"YA ALLAH, Hanya kepadaMu lah aku mengaku kebingungan!"

Guru tetep guru, sebodoh-bodohnya, minimal harus lebih tau dari muridnya. Dan dengan nama Tuhan, gue yakin, niat baik selalu dibukakan jalannya.

Dan kemudahan memang selalu ada untuk mereka yang mau berusaha, 10 soal gue babat habis, malahan sampai nambah-nambah soal yang gue karang sendiri. Ternyata memang bener, 'Proses terberat ngelawan ketakutan adalah memulainya, sedang ketika sudah berjalan semuanya ngalir gitu aja'.


09:10 pm...

Jam ngajar gue pun kelewatan saking asiknya. "Pak, udahan pak, udah malem ini, saya mau pulang". Si Yuni nyadarin gue dan temen-temen yang lain.

Karena nanggung, gue pun ngasih 4 soal untuk dikerjain di rumah (PR), lalu pamit diri dan berterimakasih atas waktu yang mereka sempatkan untuk belajar.

Ada hal yang nggak bisa dijelasin atas malem ini, dimana ada cemas, takut, aneh, nggak siap, nekat, bodoh, surprise kunci jawaban yang salah, tenang, bantuan Tuhan, jalan, dan rasa terimakasih banget untuk kesempatan yang dikasih semesta untuk gue mengenal dunia lain. 'Mengajar'.

Matematika, adalah contoh kecil dunia yang gue tinggalin setelah nyerah kuliah di jurusan Teknik sipil, lalu hijrah ke dunia Arsitektur. Sampai kita kembalikan lagi pada semesta, sekarang gue akhirnya bener-bener yakin kalo bumi itu bulet. 'Ketika gue ngejauh akan suatu hal, sesungguhnya tanpa sadar itu akan mendekatkan gue sendiri kepada hal tersebut, dari sisi lain'. Mungkin bukan dalam posisi belajar, namun mengajar. Dan gue harus bertindak lebih banyak lagi dari sekedar mempelajari.



minjem potonya, Ndut :D

6 komentar:

Juli 'Kun

Itu namanya jodoh..pindah biar g ketemu itungan mlah jd ngajar skrng..Hå哈=DHå哈=DHå哈=DHå哈=D
Teruskan perjuanganmu man(nekatny mksdny..:-p

marogi

Semacam kode untuk "sesuatu" yang sedang menjauh, dan pada akhirnya menuju pada kedekatan diri ;-)

NZ

keren mang, eh Pak daman :D

Daman kadar

iya, ini terus berjuang :D

iya, Gi. semacem ga bisa pindah ke bumi-bumi berikutnya.

Okey, :) call me 'Pak Guru!' :D

donyapc

Informasinya sangat bermanfaat, berikut ini ada contoh soal psikotes gambar/ BAUM tes, download software gratis, dan download blogger templates seo responsive.

sadualhee

Info yang sangat menarik.
Psikotes itu mudah jika tahu trik menghadapinya! Psikotes itu gampang jika tahu cara menjawabnya! Simak caranya di Soal Psikotes dan Jawabannya dan tips Wawancara Kerja.
Dapatkan Info kerja Aceh untuk wilayah Aceh dan sekitarnya.

Bagi anda yang belum memiliki momongan sebaiknya ikuti petunjuk dr. Rosdiana Ramli SpOG dalam bukunya Cara Cepat Hamil dan Tips Cepat Hamil. Semua persoalan kehamilan yang dihadapi pasangan baru menikah dibahas tuntas. Ini berdasarkan pengalaman beliau sebagai dokter kandungan.

Begitu juga dengan bunda yang sedang menjalani Masa Kehamilan dan Tanda-tanda Kehamilan, tips dari dr. Riyani Limoa, SpOG cocok kiranya dijadikan sebagai panduan dalam memantau tumbuh kembang calon sibuah hati anda.

Selain cara cepat hamil dan panduan ibu menyusui kami juga sudah menerbitkan buku Cara Merawat Bayi Baru Lahir satu tahun pertama, sangat cocok bagi bunda yang masih kesulitan atau masih bingung dalam mendidik dan merawat di masa perkembangan keemasannya tersebut.

Kunjungi kami di Masa Hamil dan Menyusui. Terimakasih gan.

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger