Sakit Hati Memang Tidak Sebanding Jika Dibayar Maaf, Tapi...

Kemarin sempet ngobrol bersama mas Bagas, dengan topik utamanya  adalah 'meminta maaf duluan (katanya) pahalanya lebih besar'. Sempet nggak percaya juga sih, kenapa meminta maaf duluan pahalanya lebih besar, sedangkan biasanya yang meminta maaf adalah pihak yang salah, dan yang memaafkan adalah pihak yang tersakiti. Kalau diambil logika sempitnya ya  memang begitu, harusnya mereka yang memaafkan berpeluang mendapat pahala lebih besar karena sudah tersakiti, kemudian memaafkan.

"Tapi, bukan itu permasalahannya", kata mas Bagas. "Orang yang meminta maaf adalah orang yang tetap ingin menjalin silaturahmi, dan sudah mengakui kesalahannya. Kan, kata orang; "Siapa yang memutuskan silaturahmi termasuk orang yang dilaknati Allah", jadi si peminta maaf itu berusaha agar dia dan si-yang-dimintai-maaf tidak termasuk orang-orang yang di laknat Allah".

"Ohh..." Sahutku.

"Coba lihat handphone kamu, banyak temen-temen kamu yang nyebar kata maaf kan?, Mereka orang-orang yang suka silaturahmi, ya walaupun dalam bentuk broadcast, tak apa, intinya kalau ada kecanggihan teknologi yang mendukung untuk mengirim pesan langsung ke semua, kenapa harus satu-satu"

"Iya, tapi kalimatnya panjang-panjang, dan kadang banyak yang sama, suka saya biarin aja", sahutku sambil nyengir.

"Ya sebenernya meminta maaf nggak perlu karangan kata-kata indah, cukup kalimat yang jelas, mudah dimengerti dan sampai di hati".

Mungkin kutipan obrolannya hanya segitu, yang gue hafal, selebihnya banyak yang lupa. Setelah obrolan itu gue jadi merasa banyak dosa, ya walaupun sebelumnya tetep merasa banyak dosa, tapi ini lebih banyak lagi. Banyak salah-salah sama beberapa orang yang sampe sekarang pun belum sempet ketemu dan minta maaf. Boro-boro minta maaf langsung, semua akses dunia maya aja diblock. *kode*

Ya, gue sadar, meminta maaf tak semudah menjulurkan tangan dan ucap "Maafin gue ya, gue banyak salah", enggak, ngak segampang itu, terlebih jika menyangkut perasaan dan harga diri. Rasa sakit hati yang udah dalem itu susah buat ditambel, dibetulin, dan dikembaliin seperti dulu.

Mungkin ini yang ngebuat gue nyesel, kenapa dulu-dulu bisa jadi orang jahat, tapi apapun itu, namanya juga waktu, kita gak bisa kembali ke masalalu dan merubah semuanya dari awal, tapi kita bisa memulainya sekarang untuk sebuah akhiran yang baik.

Masing-masing dari kita mungkin pernah merasakan sakit hati, tapi itu bukan alasan yang halal untuk memutuskan silaturahmi. Dan walaupun pada dasarnya, sakit hati memang tidak sebanding jika dibayar 'maaf', tapi mau gimana lagi, agama kita mengajarkan untuk saling memaafkan.

Mohon maaf atas semua hal dari saya yang tidak berkenan di hati kamu, semoga maaf-memaafkan bisa mengobati luka, setidaknya membalut sakit hati, sampai pada waktunya dapat sembuh dengan sendiri.

Mohon maaf, dan selamat berpuasa esok hari, Teman-teman. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger