Filosofi Angkot

"Sudah, jangan ke Pondok Kopi" pikirku.

Di Jakarta yang jumlah wanitanya sebanyak 7.948.022 jiwa (sudah terhitung dari balita, remaja, dewasa, sampai lansia) harusnya ada wanita lain yang kebetulan berharap aku main ke rumahnya, berbicara tentang hari esok, UTS, Mesut Oezil yang doyan makan kangkung, juga rencana rahasia membuatnya cinta. Harusnya masih ada.

Kebetulan ini hari libur, walau begitu aku tidak libur memikirkannya, dia itu hobi, bukan pekerjaan. Buktinya aku cinta - dia tidak bayar cinta, apalagi namanya kalau bukan cintaku itu sukarela? Sayang, dia itu bukan lembaga kesukarelaan.

Seharusnya sebentar lagi dia tau, aku akan pergi, pergi ke tempat yang paliiiiiiiing jauh, sampai pikiran diapun tak mampu menjangkaunya, sampai google pun tak bisa melacak tempatnya. Aku bilang bigini agar dia cemas, sebab kalau tidak begitu dia tak pernah rindu.

Sebetulnya aku tidak rindu, aku bosan, kenapa sih harus ada rindu yang sifatnya sendirian? Harusnya rindu itu berhubungan, ketika aku rindu padanya, dia harus rindu padaku. Harus. Kalian juga pasti setuju kan?, akan ada rindu itu menyenangkan, akan ada pula rindu itu sendirian. Tapi tenanglah, aku sedang buat proposalnya (Proposal Rindu Timbal-Balik) untuk diajukan kepada Tuhan. Dia maha mengerti.



"Sudah, jangan ke Pondok Kopi" masih pikirku.

Di ujung pertigaan jalan, Angkot itu memanggil-manggil, seakan akrab denganku. "Daman sini, Daman cepet! Daman begok! Cepetan Tolol! Sempak!! Ayo ke Pondok Kopi, jangan sampe terlambat, nanti dia marah!"
Akupun berlari, sekuat-kuatnya sekenceng-kencengnya, kayak angin, kalah deng angin...

Angkotnya melaju.



Akupun makin lari, makin kenceng, makin keras, kayak petir, kalah deng petir...

Angkotnya makin jauh.



Sesekali aku menangis, menangis bohong-bohongan yang air matanya beneran, menyesali keterlambatan, menyesali kepergian. Sampai ketika, telah tiba angkot lagi, yang berhenti dihadapanku, tersenyum manis, menyapaku mesra; "Ayo Mas, naik!"

Di Jakarta yang jumlah wanitanya sebanyak 7.948.021 jiwa (sudah berkurang satu karena tak ku hitung dirinya), angkot ini pun ambil suara;

"Jangan mengejar ia yang telah meninggalkanmu, karena dibelakang masih ada yang siap untuk menjemputmu".

3 komentar:

marogi

ibnumaroghi menyukai postingan ini. katanya. lewat internet.

Daman kadar

Hi, Gi. Apa kabar :D

marogi

Baik, Man. Gue harap lo juga :)

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger