Proposal Rindu Timbal Balik

(Mengacu pada posting sebelumnya, berikut adalah proposal rindu timbal-balik)



I. Latar Belakang


Tuhan, aku tidak mengerti caranya membuat proposal, karena setiap pelajaran Bahasa Indonesia aku jagonya cuma nyontek, iya aku salah, tapi mudah-mudahan itu bukan dosa, karena yang terpenting aku mengumpulkan tugas yang disuruh guruku, hingga dia tidak marah. Kan menurut Ibuku (Wanita yang kau tugaskan menjadi orang tuaku), ketika aku bertanya apa itu dosa kepadanya; "Mah, apa itu dosa?", beliau pernah menjawab;

"Dosa adalah kalau kamu nakal, tidak nurut kalau Mama suruh-suruh, termasuk menolak pergi ke pasar untuk beli cabe bawang tomat 1500. Dosa juga adalah ketika kamu bertengkar dengan teman-temanmu, lalu kamu nangis dan mengadu ke mama, itu dosa, lebih kepada siapapun yang memulai kamu tidak boleh bertengkar...". Sebenarnya perkataannya masih panjang, tapi tidak perlulah aku teruskan, karena ujung-ujungnya aku dipukul sapu.

Tuhan, izinkanlah aku sebut tulisan ini sebagai proposal, baik atau buruk bentuknya, benar atau tidak isinya, izinkan aku merasa bahwa ini benar-benar proposal. Aku tidak minta macam-macam lagi sekarang, tapi besok tetap lagi. Dan kali ini, proposal ini, adalah bentuk kebimbanganku terhadap suatu rasa yang kusebut dengan 'rindu'.

Tuhan, mengapa rindu itu harus begitu?, adakalanya rindu itu menyenangkan, adakalanya rindu itu sendirian? Mengapa harus ada rindu yang tercipta hanya untuk seorang diri?, bukankah alangkah lebih baiknya jika rindu itu saling memiliki?.


II. Masih Latar Belakang


Tuhan, maafkan saya yang masih bingung setelah 'latar belakang' itu harusnya apalagi?, saya benar-benar tidak paham proposal. Tapi biarlah begitu, karena ku rasa, bagaimanapun cara aku menulis kamu pasti mengerti.

Tuhan, dengan adanya proposal ini, mungkin ada baiknya jika Kau berikan kami sepasang hati yang saling merindu, namun jika hanya aku yang rindu sendirian, biarlah tak usah kau beri rindu, aku tak apa, biar ku cari hati yang lain yang bisa saling rindu. Karena seperti yang kau tahu, Tuhan, merindukan seseorang yang merindukan orang lain adalah menyedihkan, dan aku kurang suka itu, sama halnya dengan aku kurang suka ngupas bawang merah. ---Pedih, Tuhan.

Tuhan, sekiranya itu dulu yang mau aku sampaikan. Selebihnya masih banyak lagi, tapi itu nanti saja, ini dulu. Sekiranya akan ada rindu timbal balik yang ku rasakan, atau kau boleh hapus saja rinduku jika bertepuk sendirian. Aku masih percaya, hati manusia itu terkoneksi dari satu hati ke hati yang lain, yang analoginya; jika aku memikirkan seseorang, sesungguhnya orang itu pun memikirkanku. Tapi tentu saja jika koneksi kami tidak terputus.

Dengan nama Tuhanku yang maha segalanya, aku meminta kebijaksanaan.

3 komentar:

Joel Alta

mantep mas...

Yolanda Priska Sari

galaaaaauuuu banget ya man. Sepertinya yang terakhir amat sangat berarti ya. Penyesalan memang datang terakhir ya. Semoga bisa jadi pelajaran. ;)

Daman kadar

Terimakasih sudah mampir, Joel :D

Iya, Olaa :D alhamdulillah, ini jadi pelajaran berharga :D

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger