Hari Ibu Tanpa Ibu



Di sudut kamar ini aku hanya bisa merasa sepi, mengingat tentang Ibuku yang sering menggedor pintu kamar untuk membangunkanku pagi-pagi, bersuara keras dengan nada kesal untuk mengingatkan ku sholat subuh, tentang ia yang cemberut kalau aku pulang malam, tentang ia yang banyak memberiku pengalaman hidupnya sebagai catatan-pribadiku ‘bagaimana seharusnya menjadi seorang wanita’. Juga tentang ia yang ku pikirkan sekarang, tentang ia terlalu sabar untuk menjadi seorang wanita yang membesarkan anak nakal sepertiku.

Ibu, tahukah kamu kalau hari ini adalah hari ibu? Hari yang tak pernah ku rayakan denganmu, hari yang mungkin sering kau lihat iklannya di TV tapi terasa biasa saja untukmu karena tak pernah ku utarakan cintaku sebagai anak yang mencintai ibunya.

Ibu, tahukah kamu, disaat orang-orang masih mempunyai ibunya, namun hanya mengucapkan di jejaring sosial tentang cintanya pada ibu mereka, aku kesal ibu, aku menyesal melihat gambaran diriku dulu, menyesal tak pernah ku utarakan langsung padamu seraya memelukmu erat, memelukmu tanpa rasa ingin ku lepaskan lagi, memelukmu sampai kau sesak nafas mungkin, tapi biarlah, sekarang nafasku pun sesak, sesak karena tak bisa lagi memelukmu, tak bisa lagi mengadu kepadamu, tak bisa lagi mendengar omelanmu, dan tak bisa lagi merasa bahagia di hari Ibu.

Ibu, maafkan aku, maafkan anakmu, maafkan semua kekeliruanku yang menjadikanku anak yang tak membahagiakanmu. Semoga kelak, nanti, di rumah kita yang baru di Surga, di sebuah kamar yang akan ku dekorasi sama seperti kamarku di Bumi, aku bisa memelukmu lagi, mendengar suaramu lagi, merasakan omelanmu lagi, dan menjadi anak yang lebih baik di kesempatan kedua. Akan ku patuhi semua nasihatmu, takkan ku bentak lagi sekecil apapun marahku, takkan kubiarkan lagi dirimu mendiamkanku.

Ibu, aku mencintai ibu, tanpa tau bagaimana lagi cara menyampaikannya.

Selamat hari ibu.




{ Postingan ini saya tulis setelah bangun tidur hari ini, setelah membaca curahan hati teman yang benar-benar memukul, tentang 22 Desember. Semoga ia dan mendiang Ibunya diberikan ketenangan oleh Tuhan, dan dipertemukan lagi di tempat yang kekal nanti. Aaamin. Terimakasih, Okta. Tetap semangat! }

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger