Ngecengin Bulan

Tahu apa yang ada di pikiranku?
Tidak?
Tidak sebagus yang kau pikirkan, Bulan.
Tidak seperti sanjungan-sanjungan sebelumnya.

Sebenarnya dosa apa engkau kepada Tuhan sehingga dihukum seberat itu
Dibiarkan sendiri, jauh dari bumi, jauh dari matahari.

Di Bumi sini, apa cuma aku yang memikirkanmu setidak berguna ini?
Merasai menjadi kamu yang kemarau tak pernah hujan
Tak pernah dibakar habis hutanmu, atau sekedar menjadi tempat perang yang bagus.

Di Bumi ini ada kami yang berbangga menatap indahmu,
Namun apa benar kamu tidak merasa sepi?

Dulu, Bumi pernah merasa simpati terhadapmu,
Mengutus anak manusia mengunjungimu, Neil amstrong namanya.
namun katanya, bocah kecil itu berbohong?
Maafkan ia, Bulan. Akan Bumi kirimkan lebih banyak lagi penggantinya nanti.
Menyampaikan surat-surat cinta Bumi kepadamu.
Ah, andai kamu memiliki email dan sinyal Wifi disana, mungkin tak sesulit ini.

Oiya, Jangan-jangan, apa kamu itu saudara tiri dari Bumi?
Lalu siapa Ibumu?
Menelantarkanmu sejahat itu.

Bumi saja diberi laut, kamu tidak
Bumi saja diberi angin, kamu tidak
Bumi saja diberi aku, kamu tidak.

Menangis saja, kalau bisa, kalau kamu punya air itu juga.

Lalu, kembali lagi ke permasalahan utama,
apa dahulu kamu nakal sekali hingga kini terasingkan?
Mungkin belum terlambat, bertaubatlah. Dan kembali lagi kepada kami.





0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger