FRIENDZONE

Semacam kata pengantar

Berawal dari persamaan nasib (jomblo) yang tahun lalu sudah terbentuk komunitasnya, lalu persamaan hobby menulis unek-unek, juga persamaan pemikiran bahwa setiap orang pernah mengalami Friendzone, maka tercetuslah ide untuk menulis cerita bersama. 


Cerpen ini ditulis oleh dua penulis, dua pemikiran berbeda, dan dua sudut pandang berbeda memaknai Friendzone. Jika dilihat secara garis besar cerita ini adalah fiksi, namun ternyata didalam fiksi tersebut diselipi pengalaman-pengalaman pribadi yang dituangkan diam-diam.  Hehehe.. jadi sejenis fiksi curhat.


Banyak kesulitan dalam menulis cerpen bersama, namun hal itulah yang ternyata menimbulkan kesenangan-kesenangan. Menyatukan dua gagasan menjadi satu itu merepotkan, banyak miss yang terjadi, namun banyak hal yang ternyata disitulah serunya.


Kadang menulis ini seperti bermain bola, saya mengumpan, dan dia meliuk-liuk menggocek-gocek dan lalu tiba-tiba mengumpan balik dengan tak terduga. Dan jika bicara tentang gol, maka cerpen ini adalah gol yang bisa saja diartikan sebagai goalkick atau jadi cornerkick. Sebuah akhiran yang sebenarnya tak selalu satu tuju.


Lihat profil















--------------------------------------------------------------------------------------------



FRIENDZONE

(oleh : Marisha Fristiyanti dan Daman Kadar)




Marisha

Secangkir teh. Semudah itu aku mengingatmu. Sesederhana gula yang melarut kau bahagiakan aku di alam kita berdua, maksudku alam yang kubuat sendiri saat kita berdua. Cangkir teh dengan asap mengepul selalu menjadi tanda kau hadir, setiap senja mulai berlalu.

            Lagi dimana?

Dengan itu kita memulai semua, atau dengan sapaan yang kamu buat sendiri untuk menghabiskan setiap malam-malam kita yang sepi.

Kamu dimana, Tuan? Malam ini belum kutahui kabarmu.

Ini hari ke delapan ratus sembilan belas sejak setiap senja menjadi milik kita. Tiga cangkir teh. Pukul sebelas malam. Aku sampai sulit bernafas mengingat pesan terakhirku padamu. Pesan yang tidak juga kamu balas sampai detik ini. Barangkali benar perasaan mampu merubah keadaan. Entah apa yang berubah, yang kutahu aku tak nyaman begini. Ada apa denganmu, pergi untuk terus kucari. Sudahlah, jangan ajak aku lagi untuk terus menunggu, menebak-nebak, membiarkan hati melonjak-lonjak, kemudian meringkuk sendiri kala pertanyaan itu selalu mendesak, menuntut kepada perasaan untuk diagungkan. Pertanyaan: Kita ini apa?

Kita ini apa ya? Maksudku, kamu tidak lagi perlu tanya apa perasaanku, aku yakin kamu tahu. Tapi tentang perasaanmu, aku tak pernah tahu.

Kuulang kata-kataku dalam pesan terakhirku. Pukul satu pagi, kamu pasti sudah lelap berbaring menghadap ke kiri. Selamat tidur, Daman Kadar.


*****


Daman

Hidup yang rumit terlalu mengganggu. Sebenarnya, apalah rasa? Hanya hayalan yang dianggap nyata dan tak pernah ku agung-agungkan sebesar kekhawatiranku akan terpenjara olehnya. Kurasa semua hal sudah indah sebegininya, saling dekat dan memahami satu sama lain tanpa harus ada cinta. 

Lalu untuk apa diperjelas? Untuk apa dicantumkan nama seseorang dengan seseorang lainnya hanya untuk rasa menghaki? Untuk apa menjadikan seseorang sebagai kepunyaan dan menjadikannya tak bisa bebas sesuka hati? Bukankah kebahagiaan tak selalu berasal dari memiliki?

Pagi ini, aku bangun dengan ganjalan luar biasa. Ya, sesuatu sudah mulai menjadi rumit. Emmm.., biar kuperjelas; mendapati seorang perempuan yang selalu kau anggap teman dekat tiba-tiba mengutarakan cinta padamu adalah hal teraneh yang pernah kurasakan. 

Kita ini apa ya? Maksudku, kamu tidak lagi perlu tanya apa perasaanku, aku yakin kamu tahu. Tapi tentang perasaanmu, aku tak pernah tahu’. Berkali-kali ku baca pesan ini, menelusuri lebih dalam apa maksudnya dan mendapati bahwa hatinya ingin lebih daripada hanya sekedar teman dekat. Kekasih.

Kuketik balasan beberapa kata, lalu ku hapus, ku tulis lagi dan kuhapus lagi. Berkali-kali. Entahlah harus kubalas apa agar keadaannya tak semengganggu ini.

*****


Marisha

Pagi ini lucu sekali rasanya mendapati diriku yang menahan untuk tidak membangunkanmu seperti pagi-pagi yang biasa. Benar-benar lucu. Apa-apaan, mengapa semua menjadi sulit. Baru saja kukatakan ini semua lucu, tapi untuk tertawa sedikit saja aku kesulitan. Memuakkan.

“Jangan lupa nanti sore yaaa. Awas lo gak dateng! Baliknya gue nginep lagi di sini,” ujar Tasha, satu-satunya teman terdekatku.

Pukul tiga pagi tadi gadis berambut nyaris mirip laki-laki ini sudah masuk ke selimutku, bukan hal yang baru.

“Mau gue antar gak? Eh, lo mandi gak sih?”

“Gue bawa aja mobil lo, nanti lo bisa naik taksi kan?”

Aku menjawabnya dengan sekali lirikan dan kembali menarik selimut hingga menutupi kepala.

“Stop mikirin hal yang gak seharusnya lo pikirin,”  BRAKKK!

Aku hanya melihat pintu yang baru saja dibanting Tasha. Anak nakal.

*

Terhitung dua ribu delapan ratus delapan puluh menit dan dua ribu dua ratus dua puluh detik sejak pesan itu kukirimkan padamu, masih tidak ada balasan. Persetan dengan balasan pesan sialan itu, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.

Lagi dima

Ah. Kumasukkan kembali ponsel ke dalam tas, berharap tidak lagi menemukannya.

“Awas!” Tasha menarik tubuhku hingga nyaris limbung ke sisi jalan, “Lihat-lihat kalo nyebrang dong ah. Mikirin si Miranda tadi ya? Kok kayak lo banget kisahnya sih, di-PHP-in. Hahaha.”

“Monyong lu!” sahutku asal.

Kami berdua berjalan memasuki coffee shop di kawasan Cikini. Ocehan Tasha selanjutnya tidak sampai dengan jelas di telingaku, aku justru sibuk mereka ulang sosok Daman. Di tempat yang sama, dia juga menarik bahuku saat kita menyebrang jalan pada malam itu. Di jalan yang sama. Semua kembali teringat. Malam itu. Wajahnya. Jemarinya di bahuku. Begitu dekat. Daman, aku mendadak rindu pada harum di tengkukmu saat kita bersisian, sengaja kuselisihkan satu langkah di belakangmu untuk menyaksikan punggungmu. Barangkali, kelak hanya itu yang mampu kuingat kala punggung itu berlalu dan kemudian hilang. Maka biarkan itu jadi satu-satunya yang dapat kuingat, bahwa kita pernah sebegitu dekat.

Malam ini begitu dingin.


Daman
                                                                                                   
Sudah dua hari dia tak menghubungiku. Baiklah, ini sebenarnya memang akibat ulahku yang hanya membaca pesan terakhirnya tanpa mampu membalas satu huruf pun. Kalau saja semua perempuan mengerti cara yang tepat membuat lelaki jatuh cinta. Bukan begitu caranya.

Pukul 21:00, sepulang kantor, sehabis kubabat habis pekerjaan yang minta dibasmi, ku sempatkan diri singgah ke tempat biasa kuteguk espresso panas dan menyemili biji-biji kopi yang kata orang pahit, namun bagiku, tak ada yang boleh lebih pahit dari hidupku sendiri.

Kudorong kedua daun pintu cowboy yang menyekat dinginnya udara luar dan hangatnya cafe kecil ini, lalu segera kutujukan mataku ke tempat duduk favorit, tempat duduk pinggir jendela yang menghadap ke ramainya lalu lintas luar. 

Dari kejauhan kulihat ada dua perempuan di sana, sepertinya tak asing. Kemudian aku pun mendekat hingga wajah itu menoleh dan kudapatkan sorot matanya menusuk mataku. 

Sial, terlambat kukelak, sungguh terlambat untuk pura-pura tak melihat dan menyadari lebih awal bahwa wajah itu adalah dia. 

Di ramainya tempat ini, kami saling menatap dalam sepi, dengan banyak bahasa yang sudah sangat cukup dibicarakan lewat sorot mata.

“Hai, gabung sini!” suara cempreng ini tiba-tiba datang memutuskan bahasa mata kami. Ya, itu mungkin Tasha, gadis bondol yang sering diceritakan Marisha kepadaku.


Marisha
Entah laki-laki ini maunya apa. Untuk apa dia disini. Atau mengapa kebetulan-kebetulan ini terjadi. Seingatku jumat malam adalah jadwalnya main futsal.

Aku melirik Tasha tajam. Telat. Tubuh itu mendekat dan dalam hitungan menit jemarinya bergerak menarik kursi yang paling dekat dengan jangkauannya, di sebelah Tasha.

Ini sulit. Mendapati laki-laki yang selalu ingin kulihat dalam jarak dekat, kecuali malam ini. Ingin rasanya melompat ke luar jendela di sisi kiriku, tapi kalah cepat dengan hatiku yang mencelat duluan. Harus dengan kata apa untuk memulai bicara dengan dirinya setelah semua itu terucap. Sungguh, aku seperti ditelanjangi di hadapannya. Kata-kata di pesan itu seolah melucuti semua. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan. Tidak ada lagi.

Mata itu. Mata tajam yang biasanya selalu meneduhkan, kini seperti menikam. Aku kehabisan kata.

Ketika tepat mata kami bertumbukan, sepotong kalimat berhasil keluar dari mulutku. Terdengar seperti tercekat.

"Dari mana?"

Dia masih memesan espresso. Ketika cangkir itu datang dari sudut mata kulirik tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan sesuatu, kemudian dimasukannya kembali.

"Kalian sudah lama di sini?" ujarnya sambil menyesap bibir cangkir. Kotak berisi gulungan nikotin itu masih di dalam sakunya.

Janji ya, kalo lagi sama aku, kamu gak boleh ngerokok. Iya, katamu.


Daman

Ada diantara dua perempuan ini sungguh tak nyaman, terlebih karena tak bisa bebas merokok. Mmm, entahlah, mengapa laki-laki sering berjanji pada perempuan walau sesungguhnya tidak ingin.

"Kalian sudah lama di sini?

"Kalian sudah lama di sini?" kalimat yang sama dua kali kuucap karena belum dapat jawaban.

"Eh, apa apa? Iya, udah lama, lumayan lah sekitar setengah jam yang lalu gitu deh. Lu ditanya tuh tadi sama dia, dari mana?, tapi belom jawab," cerocos Tasha mulai melumerkan suasana kaku ini.

"Dari kantor, tadi lembur sebentar. Mmm.. Kamu ga minum?" kutanya Marisha yang sedaritadi diam saja sembari mengalihkan pandangannya dari wajahku.

"Dia lagi puasa ngomong," potong Tasha, disambut senyum ala kadarnya dari dia yang memang lebih memilih bisu. 

Tak terasa sudak lima belas menit kami habiskan dengan banyak diam dan basa-basi kecil, semua hambar, hingga akhirnya Tasha mendorong tempat duduknya agak jauh ke belakang dan memandang kami berdua.

"Kayaknya kita bertiga bukan anak kecil lagi deh yang pura-pura ngobrol lepas padahal dalem hati ada banyak hal yang sebenernya ingin keluar".

Aku kaget mendengar Tasha berkata itu, begitupun Marisha. Kurasa Tasha mengetahui banyak hal.

"Oke, gini, gue pergi dulu dari sini. Yah... lu tau lah, gausah nanya gue kemana, yang pasti gue ada di tempat yang gue suka dan kalian selesain semuanya dulu di sini, nggak perlu cepet-cepet, gue juga nggak akan mau balik terlalu cepetnya ke sini. Oke! Nanti kalo udah selesai, kabarin gue, gue ngiter-ngiter dulu". Tasha mengambil tas kecilnya, tos pipi dengan Marisha, dan kemudian meninggalkan kami berdua.

Hening.

Dan dari kejauhan, persis sebelum pintu keluar, Tasha masih sempat berteriak menghadap kami "Selesain!"


Marisha

Tasha sialan.

"Mbak, machiatto panas satu," ujarku pada salah satu pelayan yang melintas di hadapanku.

Kulirik dia yang tengah menatap ponselnya, mengetuk ngetuk layarnya. Berani taruhan, dia melakukan sesuatu yang gak penting.

"Tadi aku sama Tasha habis nonton wayang orang. Budayanya agak geser sih. Lebih modern. Jadi males," racauku. Gak penting banget.

Ponselnya diletakkan begitu saja di meja sambil menyandarkan bahunya ke belakang, "Emang nyeritain apaan?"

"Drama. Cinta cintaan. Kamu tau kisah Patkay dan Adik Chang E kan? Bedanya yang suka si perempuan, namanya Miranda. Sampe pas dijemput dewa kematian pun si laki-laki itu nyangkal dewi cinta gak pernah ada," kututup kalimatku dengan tawa yang singkat.

Hening.

Kurasa aku salah cerita. Kenapa rasanya seperti menceritakan diriku sendiri. Ini benar-benar tolol.

Raut wajahnya berubah.

Izinkan aku menghilang dari sini, sekarang juga.


Daman

Aku sudah sering memakan percakapan basa-basi, dan memang tak mengenyangkan. Banyak kata tanpa makna dan buang-buang waktu hingga akhirnya hilang begitu saja tanpa nilai apa-apa. Aku tahu, menjadi dirinya amat sulit, namun apakah salah, dekat dengan perempuan tanpa ingin punya perasaan apa-apa?

Aku pernah bertanya kepadanya, kalau hanya ada dua pilihan, kamu pilih mana; menjalani hidup dengan orang yang kamu cintai, atau menjalani hidup dengan orang yang mencintaimu? Pada saat itu, dia menjawab yang pertama, bahwa konsekuensi terberat pilihannya adalah hidup tanpa dicintai.

Seperti biasa, pikiranku selalu pergi kemana-mana sampai lupa bahwa ada dia di depanku yang sedang menunggu. Ya, rumus perempuan pada kamus besar mereka; 'laki-laki harus mulai lebih dulu', egois sekali.

Ku teguk kopi pahit ini dalam-dalam, tanpa basa-basi "Jadi, apa kamu dan aku harus memaknai kedekatan ini dalam konteks percintaan?"


Marisha

Jadi, apa kamu dan aku harus memaknai kedekatan ini dalam konteks percintaan?

Lamat lamat kuulang ucapannya dalam hati.

Apa sih yang kamu rasa?

Mulutku mengulang apa yang dikatakan hati, "Apa sih yang kamu rasa?"

Machiatto ini sungguh pahit sekali!


Daman

"Banyak. Dan dari sekian banyak yang aku rasa, tak ada cinta,” 

Kata-kata barusan membuatku tahan nafas panjang sekali, ku lihat matanya membendung, menahan, berjuang semampunya agar sesuatu tak tumpah. Ku tebak air mata.


Marisha

"Tidak kah sedikitpun dari ucapan selamat tidur, teleponmu tengah malam hanya untuk mengatakan kamu susah tidur, atau apapun....." aku tercekat. Laki-laki ini tahu benar cara menikam rusukku. Sesak.


Daman

"Ketika kuucapkan selamat tidur, aku hanya ingin mengucapkan itu. Ketika aku beritahu kamu, aku susah tidur, aku hanya ingin kamu tahu. Dan ketika aku bilang ke kamu 'tolong kabari jika sudah sampai rumah!', aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja di jalan. Apa aku salah?"


Marisha

Ujung sepatuku menjadi satu-satunya yang paling meneduhkam. Kubenamkan mataku di sana. Mata yang nyaris basah.

"Aku sayang kamu...."

            Hanya kalimat itu yang mampu mewakili lidahku yang kelu, mewakili hati yang benar-benar jatuh pada ribuan hal-hal kecil bersamanya yang kujadikan alasan rasaku membesar begini, yang menjadikan setap detik bersamanya seperti seolah ia milikku. Kurasakan hatiku tergetar mengatakannya, kuharap kalimat itu mampu menghapus kata ‘seolah’ yang selalu menjadi sekat, yang mengaburkan jemari untuk selalu saling mengenggam, yang akan menghapus kata ‘teman’.


Daman

Hatiku teremas hebat, sulit sekali bernafas setelah mendengar seorang hawa mengutarakan rasa sayangnya sambil menangis. Jika ada laki-laki yang tak terenyuh melihat perempuan menangis, ---tidak, tidak, aku bukan lelaki seperti itu. Jika saja boleh ku minta rasa sayangku kepada Tuhan, lalu boleh ku pilih jatuh hati padanya, mungkin saling mencintai itu indah. Tapi tidak, tidak bisa. Hatiku sudah terlanjur jatuh ke perempuan lain.

Ku tatap wajahnya, ia masih betah menunduk, sesekali melihatku dengan tatapan yang sulit sekali ku jelaskan lewat kata-kata. 

"Bukankah lebih baik kita berteman saja? Kau tak pernah serapuh ini.

Aku melanjutkan, “Maksudku, dulu kita ceria, kita pernah bisa bahagia tanpa cinta. Apa itu masih kurang?" nadaku lemah, berusaha berbicara selembut mungkin agar tak menyakiti hatinya.

"Kamu tahu mengapa kita bisa sampai di keadaan ini?"

Dia mulai mau menantang tatapanku dan bicara lewat matanya.

“Dulu kita tak saling kenal, hingga suatu saat ada saja alur takdir yang ternyata mempekenalkan kita, membuat kita berhubungan walau tanpa ada kepentingan, dan semakin dekat.

“Kamu perempuan yang lucu, bahkan orang yang sulit tertawa sepertiku pun mampu kau buat terbahak-bahak. Tetapi tertawa bukan cinta, kenyamanan bukan cinta, bahkan perasaan sayang pun tak selalu berisi cinta.

“Lalu, tentang apa maksud dari semua kedekatan ini, kurasa kamu salah mengartikannya.

“Kita sering terbawa takdir, sebut saja takdir itu adalah peristiwa yang direncanakan oleh semesta. Dan kamu tahu? Semesta itu ngeselin, mereka sering membawa kita ke posisi dimana kita pernah memintanya secara tidak sengaja.

"Aku ceritakan sepenggalan kisah sebentar. Ini terjadi di dunia kita. Apa kamu sadar bahwa alam selalu menjawab doa-doamu, bahkan kata-kata kecil yang belum sempat teramini?

"Dulu, anak kecil umur enam tahun, Felix Baumgartner pernah berkata kepada ayahnya; 'ayah, nanti aku akan jatuh dari langit dan tetap hidup'. Kamu tahu? Ayahnya tak pernah mengamini, bahkan si anak.kecil itupun tak pernah ingat pernah berkata seperti itu kepada ayahnya hingga akhirnya si anak ternyata menjadi penerjun payung pertama di dunia

"Atau juga mungkin kisahku. Dulu, saat masih sekolah, aku pernah pergi ke Ragunan bersama teman, lalu main asal tunjuk salah satu gedung di bilangan Sudirman, lalu ku katakan pada temanku, 'nanti aku akan berkerja di sana'. Dan kau tahu sekarang? aku juga tak habis pikir kenapa itu terjadi

"Lalu kembali kepada kita. Apa kau ingat pertanyaanku padamu? Jika hanya ada dua pilihan, kamu lebih pilih mana; Hidup dengan orang yang kamu cintai atau hidup dengan orang yang mencintaimu?"

Ku teguk sisa espresso terakhirku hingga habis, ku nikmati setiap pahit getirnya. Lalu ku ambil sebatang rokok dari sakuku, bersiap-siap membakarnya dan mengatakan satu hal yang selama ini tidak pernah ada yang tahu;

"Pilihan kita sama, aku juga memilih hidup dengan orang yang aku cintai. 

“Percayalah, semesta yang arogan itu menjawab perkataan kita yang sebenarnya tak pernah kita amini, hingga kau dan aku berada di posisi sekarang. 

Kuhela nafasku untuk satu kalimat terakhir, ia perlu tahu, “Aku sudah memberi cintaku kepada seseorang yang tak pernah mencintaiku."


Marisha

Mataku kutancapkan di sana, tepat di manik matanya. Mata yang masih selalu menjadi gas helium yang mengajakku melayang layang. Dulu selalu kukatakan, ‘Sudikah ia menjadi tempatku bernaung?’

Sampai ia menyelesaikan kalimatnya mataku masih tertancap di sana. Ia nampak sedikit gelisah, berkali-kali ia mengeser duduknya dan pada akhirnya membakar ujung rokoknya dan mengisapnya dalam-dalam.

Kupertegas mataku di matanya, "Benar katamu, doa kecilku telah teramini. Aku ingat kali pertama kusaksikan tubuh kurusmu berlalu di hadapanku, saat itu satu doa kecilku diamini kamu yang menoleh ke arahku. Di hari berikutnya kamu jadi alasanku rajin mandi sebelum ke kampus. Kamu jadi kakak senior favoritku. Kali kedua, sebelum kamu diwisuda, satu doa kecilku diamini lagi, saat pada akhirnya aku tahu namamu. Sampai kemudian doa kecil yang diamini, doa untuk selalu minta didekatkan padamu.

"Tapi tak pernah kuminta dalam doa untuk memilikimu..." matanya meredup, begitu juga mataku.

"Terlalu egois kalau kuminta padamu untuk melupakan hari ini dan bersikap seperti biasa, seperti yang biasanya. Dan mustahil mengelak dari keadaan yang telah diacak-acak perasaan..."

Ia menatapku dengan tatapan yang seolah bertanya, selanjutnya apa lagi?

Tolong jangan terus tatap aku seperti itu, karena setelah ini pun aku tak tahu akan seperti apa. Terlebih mau kuapakan lagi perasaan ini. Tidak mungkin kukembalikan ke awal. Begitu lama kutanam perasaan ini dan kutumbuh besarkan hingga sebesar ini...

"Bisa tinggalkan aku sekarang?" ini bukan mauku, aku hanya.... "Kamu bisa pergi sekarang......"



Daman

Aku pergi, kurasa waktu akan membuat kami mengerti. Terlalu dekat dengan seseorang yang bukan peruntukan hati kurasa jadi salah di jaman sekarang. Seperti kata Ibuku dulu, ‘Jangan suka memberi harapan, jangan banyak dekat dengan perempuan-perempuan. Pilih satu dan tujukan perhatian kamu ke situ. Perempuan itu selalu salah mengartikan perhatian, kamu harus hati-hati.

Udara mulai mendingin. Tak terasa sudah hampir tengah malam. Aku mulai khawatir dengan keadaan dia, kucoba mengetik beberapa pesan lewat handphone, namun kuhapus lagi, kuurungkan niat untuk menanyakan keadaannya. Kurasa aku harus mulai hati-hati dengan apa yang orang sebut 'perhatian'.

Kuhabisi sebatang rokok terakhir di jalan menuju pulang, ditemani siaran radio yang sedang memutar lagu ‘Let her go’ dari Passenger, dan tiba-tiba handphoneku bergetar, satu pesan masuk. 

Kuputar setir sesegera mungkin. Ada hal yang lebih penting dari pemilu presiden sekalipun.


Marisha

Dia pergi, sungguh-sungguh pergi. Dramatis sekali, hatiku ditinggal sendirian. Kurasa itu jawabannya. Jawaban atas semua hal yang menahun kuagung-agungkan: Cinta.

Mengapa cinta senang sekali membuat segala hal menjadi rumit? Apa susahnya jika semua hal dapat menjadi saling? Bukankah waktu adalah suatu yang tak kalah agung dari cinta dan bahkan mampu merubah segalanya termasuk cinta?

Waktu mengubah dari tidak kenal menjadi kenal, tidak dekat menjadi dekat. Lantas mengapa tidak mengubah tidak cinta menjadi cinta? Aku mengerti itu terlalu egois. Paling tidak, pada perasaan ini, pada perasaanku padanya apakah waktu tidak juga berkenan mengubahnya menjadi biasa?

Mampukah aku melihatnya dengan tatapan yang biasa-biasa saja, dengan perasaan yang biasa-biasa saja, dengan..............

Kalimatku dilanjutkan dengan sudut mataku yang basah.

Kuperhatikan sekitarku, hanya tinggal aku dan beberapa pelayan di meja barista. Sebelum salah satu dari mereka mengusirku dari tempat ini, kutinggalkan beberapa lembar uang di atas meja. Entah pukul berapa sekarang. Jalanan di luar mulai sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Hanya ada beberapa pejalan kaki dan beberapa orang berjualan menggulung terpalnya.

Kupeluk tubuhku dengan kedua tangan. Dingin sekali. Kiranya mendung jangan terlalu lama memainkan angin tanpa kepastian akan turun hujan atau tidak. Turunkan saja hujan. Jangan membiarkan sekujur kulit terlena akan sapuan angin. Menanti hujan turun. Ragu ragu melangkah. Baiknya siapkan payung atau sekedar jaket pelindung tubuh.

Aku tersenyum getir menggumamkan kalimat "mendung tak berarti hujan...." yang kusama-samakan dengan kisahku. Sayang bukan berarti harus bersama. Bukan berarti pula harus memiliki. Perhatian-perhatian itu, letupan-letupan kecil saat kami bersisian, saling pandang dalam hitungan detik, sentuhan jemarinya kala gelak tawa diantara kami berdua; itu semua bukan cinta. Bukan.

Aku menangis malam ini. Benar benar menangis. Ternyata tangis yang tanpa isak jauh lebih menyakitkan. Rasanya menusuk tulang.

Tak kubiarkan seseorang melihatku menangis. Tidak pula punggung tanganku. Maka izinkanlah hujan turun..........

Kali ini doa kecilku tak diamini. Atau barangkali Tuhan mau memberitahukanku satu hal, bahwa seperti inilah hidup; banyak berharap banyak pula kau kecewa, tidak berharap tidak pula kau kecewa.

Hujan tidak turun malam ini. Hanya ada angin. Angin yang mengiringi kepergiannya. Bersama angin harapan ia membumbung tinggi kemudian hilang.

Pipiku semakin basah sedang hujan tak kunjung turun. Pandanganku mengabur hingga kurasakan seseorang menarikku dengan cepat ke dalam pelukannya.......



Daman

Aku memeluknya, tak ku biarkan dingin macam apapun menyakiti hati rapuhnya, kubisikan pelan ke telinganya, "Tuhan punya rencana lain, tenang saja, aku ada, aku selalu ada buat kamu".

Isak tangisnya dalam, terseguk-seguk, dipeluknya tubuhku erat, erat sekali sampai sesak, sulit bernafas. Aku sungguh mencintainya, sungguh, walau dia tak pernah tahu aku cinta. 

Dekat dengannya sudah lebih dari cukup buatku, mendengarkan celotehnya, keluh kesahnya, atau bahkan sekedar mendengarkan isi hatinya bahwa dia sangat mencintai kekasihnya. 

"Percayalah, Evi, semua yang menyakitimu hari ini akan menguatkanmu di hari esok", bisikku pelan, membelai-belai rambutnya yang tak dihiraukan karena sibuk memelukku.

Ia meremasku, makin erat, hanya tangis yang mampu dikeluarkannya, juga sesekali menyebut nama “Evan”, kekasihnya yang dia bilang dalam pesan singkat itu, pesan yang ku terima di jalan pulang.

Evan selingkuh, dan perempuan itu hamil, Sedang akupun juga telat tiga bulan

Nafasku sesak, ulu hatiku seperti ditusuk-tusuk pisau kebencian, aku sungguh kecewa pada dunia, kecewa pada pertemanan, juga kecewa pada Evan yang tak lain adalah sahabat dekatku. 

Rintik-rintik hujan mulai menemani kami, seakan ingin memberi tahu Evi bahwa aku menyimpan air mata di langit, dan jatuh sekarang.

Barangkali jarak terjauh itu bukanlah kutub utara dan kutub selatan, tapi aku yang dipelukmu namun kau tak tahu aku cinta kamu.
Aku cinta kamu, Vi.

*****


Marisha

“Lo beneran gak mau gue antar ke bandara?”

“Iyeee. Jaga diri baik-baik Tash, minum obatnya jangan telat. Abis eurotrip sama Esta, aku padamuuu,” aku beringsut ke tempat tidur dan memeluk Tasha dari belakang. Tubuhnya hangat, dia benar-benar demam.

Yang dipeluk memilih diam, “Makasih ya Tash, lo selalu ada buat gue. Andai lo laki-laki, tanpa mikir dua kali besok kita nikah.”

Tasha masih diam.

“Gue jalan ya.”

Kutengok sekali lagi pintu apartemenku, berharap Tasha di sana sekedar berucap ‘hati-hati ya’. Seperti ada yang memberatkan langkahku melihat dia tak seceria biasanya. Ada apa dengan Tasha? Terdapat sesuatu di matanya kali terakhir kulihat, seperti ada yang ingin ia katakan. Sesungguhnya tak enak meninggalkan sahabatku yang sedang sakit itu untuk pergi liburan. Tapi eurotrip bersama Semesta sudah lama kurencanakan. Kugenggam koperku dengan satu tangan. Baiklah, ini hanya perasaan tak enak saja.

*

Kueratkan mantel tebal yang membebat tubuhku, semoga aku masih ingat seperti apa rupa Semesta. Sudah tiga tahun sejak kali terakhir aku melihat tubuh jangkungnya membelakangiku di bandara. Ingatan yang masih melekat sejak ia mengajakku menyaksikan matahari terbit di puncak tertinggi jawa dan menyatakan cintanya. Sekalipun ia tahu bahwa ada satu nama yang tak pernah luput dan tak pernah bisa tergantikan. Daman.

Sejak malam itu, malam dimana tak satupun berpihak padaku –termasuk semesta-,  aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Sesekali hati ini tergerak ingin menjumpainya atau sekedar ingin mendengar kabarnya, namun beribu-ribu kali hati juga yang melarang. Aku dan Daman tidak akan benar-benar selesai jika bukan aku yang menamatkan kisah ini. Karena ia pun tak pernah memulai. Hanya aku. Hanya aku yang memperjuangkan cinta ini dari mulai ada, menjadi besar dan kini mengakhirinya.

Hari ke delapan ratus dua puluh, hari dimana aku menamatkan kisahku dan dia. Hari di mana setiap senja menjadi milikku dan dia. Setiap senja yang kuisi dengan diriku dan bayang tentangnya. Dari bayangan yang belum kutahui namanya hingga bayangan itu punya nama mpada hari ke tiga ratus delapan puluh enam. Betapa gembiranya aku saat itu.

Dia kubiarkan hidup dalam duniaku semenjak itu. Kuhitung setiap hari, menit dan detiknya untuk menunjukkan bahwa setiap waktu menantinya begitu berarti. Tidak pernah ada yang sia-sia jika untuk dia.

Jika menantinya saja berarti, maka ketika Tuhan menghadiakan waktu bersamanya;  tepat pada hari ke tujuh ratus, aku ingin sekali menghentikan waktu atau setidaknya membiarkan waktu berjalan lambat. Namun setiap awal pasti punya akhir. Tak pernah kupikirkan ujung dari kisahku dengannya, hingga pada akhirnya aku yang sibuk bahagia dikalahkan satu langkah oleh takdir yang memilih suatu akhir untuk kisah ini.

Ia yang semula hanya berupa bayangan kemudian menyerupa menjadi nyata. Sosoknya tidak hanya lagi kutemukan di setiap pena yang menuliskan namanya atau wajahnya dalam goresan pensilku. Semua nyata, dan kenyataan pula yang membimbingnya pergi. Tiga bulan kepergiannya, aku masih menyangkal bahwa semua hanya mimpi. Rupanya ia benar-benar pergi.

Semua tidak ada yang sia-sia, termasuk kepergiannya. Kubenarkan kata terakhirnya yang membimbingku sampai di detik ini, kata-kata yang menjadikanku kuat dan sanggup keluar dari kungkungan mimpi: Setiap manusia pasti menginginkan hidup bersama orang yang dicintainya.

Daman, jika kau dapat selamat dalam langkah hidupmu yang sulit, kupastikan itu doaku.....

*

“Lo mau kemana lagi? Atau masih mau terus di sini? Masih mau nunggu dia bakalan balik dan meluk lo sekarang?

“Udahlah, dari awal gue bilang dia cuma minta lo jadi temennya, dia gak minta lo sayang sama dia. Tapi lo kasih dia sayang secara cuma-cuma.

“Buka mata lo, udah terlalu lama lo di situ, nunggu yang gak pasti. Banyak yang sayang sama lo. Dan gue yakin lo bisa jatuh cinta lagi, entah dengan siapa, yang jelas dia juga cinta sama lo. Gak kayak begini. Keluar lah dari stigma mencintai dan dicintai. Lo layak dicintai duluan sebelum pada akhirnya benar-benar mencintai...”

Itu yang kuingat dari sekian banyaknya Tasha menghujaniku dengan kalimat-kalimat yang entah darimana ia dapat. Tasha begitu penting dalam hidupku. Terlebih ia paling mengerti diriku dari siapapun, bahkan terkadang melebihi diriku sendiri.

Tasha benar. Menjadi pemeran utama dalam kait mencintai-dicintai itu melelahkan. Harus selalu ada dua peran di sana, yang saling mengisi dan melengkapi dengan porsi yang sama besar.

Tasha benar. Jatuh cinta dan berharap itu berbeda. Sebab cinta tidak pernah mengharapkan apa-apa.

Mendadak aku merindukan gadis separuh laki-laki itu. Sayangnya dia gak mau kuajak eurotrip bareng Semesta. Jadi ingat, dulu sempat terpikir menjodohkan Semesta dan Tasha. Selain keduanya adalah sahabat terbaikku, mereka punya banyak kecocokan.

Dari kejauhan kutangkap sosok Semesta melambai kearahku. Kurasakan aku sedikit gugup.
“Hola, perempuan pagi di puncak jawa!” selalu seperti itu ia menyapaku, seperti tidak ada sedikitpun yang terlupa dari kisah kecil milik kami.

“Bagaimana sosok laki-laki pujaanmu? Siapa namanya? Daman?” Semesta terbahak. Ia tidak berubah sedikitpun, selalu ceria.

“Aku jauh-jauh kesini gak untuk curhat, Esta!”

Semesta nyengir sambil menarik ransel dipunggungku untuk dipindahkan ke punggunggnya. Kemudian tangannya menggenggam tanganku, “Jika puncak jawa tidak sanggup, kuberikan Eropa untuk menaklukan hatimu.”

“Sudah terlebih dulu kutaklukan Semesta.”

Tawa kami pecah.

*****



Daman

            Aku masih di sini, di dalam Masjid yang dipadati orang-orang yang berpakaian rapih. Aku terpaku melihat cantiknya Evi menggunakan kebaya di depan penghulu. Senyum semua orang sungguh bahagia, bisa ku rasakan senyuman dan tatapan semua orang mengarah kepada kami ke prosesi akad nikah.

Senyumku, senyum Evi, dan juga senyum Evan. Kombinasi senyum banyak cerita. 

“Saya terima nikahnya Evi Kharisma Widyawati binti Joko Sudrajat dengan mas kawin tersebut tunai”.

Aku tak bisa bernafas. Sesak sekali mendengar kalimat itu keluar dari mulut Evan. Tubuhku kaku, tak kuasa memotret, ku genggam kamera dengan tangan gemetar. 

Gemetar.

*****


Marisha

Tasha sakit.

Berkali-kali ucapan Ferdi terulang di telingaku. Kupercepat langkahku menuju ruangan 308. Lo sakit apa Tash?!

“Jangan panik, Tasha pasti baik baik aja,” Semesta menepuk bahuku pelan. Kabar mendadak yang membuatku seperti tersengat listrik membuatnya tak membiarkanku kembali ke Jakarta sendirian.

Aku gemetar hebat, banyak selang di tubuh kurus Tasha. Tak berhenti aku menyalahkan diriku sendiri, dalam keadaan sulit aku tidak bersamanya.

Jaga diri selama gue gak di samping lo. Awas kalo Esta gak bisa jagain lo! Itu ucapnya terakhir ditelepon.

Tasha, lo sakit apa...............

“Dia udah siuman tadi pagi. Kata dokter overdosis, obat yang harusnya untuk tiga minggu dihabisin lima hari doang. Sakti tuh anak,” ujar Ferdi, adik Tasha.

Ferdi dan Semesta mengobrol di luar, membiarkan aku berdua di ruangan serba putih ini bersama Tasha yang masih memejamkan matanya.

“Tasha bangun, gue balik nih. Ada Esta juga...” ucapku di telinganya, nyaris berbisik.

Kuangkat sebeah tangannya dalam genggamanku. Jemarinya bergerak pelan, seperti menjawabku.

Dalam kelemahan yang luar biasa, lambat-lambat ia mendesis, “Gue sayang lo.”

Aku tersenyum, “Gue juga. Gue sayang banget sama lo.”

Tasha memejam, seperti menahan sakit. Ia masih berusaha melanjutkan kalimatnya. “Gue cinta sama lo... Cinta...”

Aku terkesiap, Ferdi dan Semesta sudah berada di belakangku. Wajah mereka berdua seperti memaklumi keherananku.

“Dia  titip ini,” Ferdi meyodorkan sebuah kotak berwarna silver kepadaku.

Kotak yang membuatku lebih terkejut dari semenit lalu.

Dari Tasha.

Foto kami berdua dan kalimat di belakangnya....

Aku menjagamu tanpa menjagamu, memelukmu tanpa memelukmu, mencintaimu tanpa benar-benar mencintaimu. Kamu tidak pernah tahu, diam-diam aku mencumbumu saat kamu terlelap dipelukanku, Marisha.


*****


Daman

         Barangkali, aku adalah salah satu dari banyaknya laki-laki yang bernyali kecil mengungkapkan cinta, menyimpannya dalam-dalam dan hanya meledak di dalam hingga hancur dengan rapih. Tak ada yang tahu.

            Evan dan Evi akhirnya menikah, semesta yang menghendaki semuanya. Selingkuhan Evan yang hamil itu, ---ah entahlah dia bagaimana, yang kutahu dia dan Evan sudah setuju menggugurkan kandungan itu tanpa banyak drama. 

            Lalu.

Bagaimana dengan kisah hidupku pun aku tak pernah lagi memikirkannya.

6 komentar:

Yuli Kartika

Bagusssss

joel alta

Ada lanjutan mas... enak dibaca.

marogi

Tahig lo Man! Cadas gila. Gaya cerita lo keren abis. Gue suka diksinya.

Marisha Fristiyanti

daman tahiggg

Rhey Nurhayati

AAAAAAAAAK !!!! SERIOUSLY LOVE THIS STORY !!!! (CAPSLOCK RUSAK) terlalu suka sampe penasaran sama cerita lanjutannya. I'd be more excited if you made a novel about this story. Bagus lah ! Two thumbs Up !

Pitri Indrayani

keren mas . lanjutkan buat cerpennya maas.

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger