Sketsa Hidup

    Beberapa hari yang lalu saya dapat pesanan sketsa dari Kakak kelas saya sewaktu sekolah dulu, Eva namanya. Eva meminta saya untuk menggambar keluarga kecilnya, dari wajah suami, wajahnya, juga wajah anaknya, Juna. Sekilas saya menyanggupi gambar ini dan mengira tak akan ada masalah apa-apa seperti biasanya, tapi ternyata ini adalah gambar yang cukup berat bagi kejiwaan saya.

    Erwin. Adalah suami Eva, beliau telah meninggal dunia 2 Juli tahun lalu, 2013. Erwin meninggalkan Eva yang saat itu sedang hamil tua. Menurut yang saya tahu dari dengar-dengar, hari itu Erwin sedang di perjalanan menuju kantor, dan etah bagaimana ceritanya, dengan cara itu lah ia dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini bukan kasus kecelakaan di jalan, bukan, dan untuk menjelaskan detailnya pun saya kurang enak hati jika harus bertanya kepada Eva. Takut membuka kesedihan.

    Waktu itu, setelah kepergian Erwin, kalau tidak salah selang satu hari, saya dan teman-teman menjenguk Eva malam-malam. Tidak banyak yang bisa saya lakukan, saya hanya bisa diam dan entah bagaimana cara menjelaskan posisi saya dalam tulisan ini. Yang saya yakini; setiap orang bisa pergi, tapi kenangan tidak.

    Satu bulan setelah kepergian Erwin, 13 Agustus 2013, Eva melahirkan. Hari itu berselimut haru, berselimut pilu, juga berselimut rindu. Bayi laki-laki kecil itu adalah mata air semangat Eva yang baru.

    Faeyza Arjuna Suryansyah.

 ***

    Sekarang umur Juna sudah 1 tahun, sedang lucu-lucunya, dan Eva sudah mulai terbiasa menjadi Bumud (Ibu-ibu muda) yang harus bisa berperan ganda; menjadi Ibu sekaligus menjadi seorang Ayah buat Juna.

    Eva, Juna, Erwin mungkin tidak bisa berfoto bersama seperti foto-foto keluarga yang ada di ruang-ruang tamu. Tapi, yang saya rasa, tanpa foto bertiga, mereka masih hidup bersama.

 
Note :
 
Demi kesantunan, tulisan ini saya posting setelah mendapatkan persetujuan dari mba Eva, beliau sudah mengizinkan ceritanya terpublish di blog pribadi saya.


Ada perasaan haru yang cukup dalam ketika mengerjakan gambar ini. Dan kalau bisa jujur, saya ini penggambar yang cengeng.

Pada saat gambar selesai, gambar saya foto dan saya kirim lewat whatsapp. Lalu saya bertanya pada Eva,
"Are you okay?"

"Wahhh... lucuu." Jawabnya.

"Aku sedih gambarnya, mba"

"It's good tough,
Hahaha... inih ajah gw nangis ngliatnyaaa."

....

Pesan itu gak saya balas lagi, nangis juga soalnya.
 
 
Kemudian Eva menutup percakapan;
 
 
 ***
 
"Maaf ya Man... ngerepotinnya melibatkan sisi emosional."





4 komentar:

anggita

*peluk ka eva* :')

marogi

*peluk daman*

Dewi Aja

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Admin Tamvan

Sinopsis Indonesia
Helmi Tube
Helmi Tube
Helmi Tube
Mas Helmi Blog
Mebroo

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger