Rumah Hantu

Minggu lalu aku ibu bertamu ke rumah bibi, rumahnya besar sunyi, sunyi sepi, sepi sendiri. Suaminya sedang mencari uang di luar kota, mungkin uangnya pernah hilang di sana.

"Mau minum apa?" Tanya bibi dua puluh menit yang lalu yang sampai sekarang belum kembali. Mungkin jarak ruang tamu ke dapur memakan waktu setengah hari perjalanan.

Bibi sering cerita, di rumah besarnya lebih banyak dihuni setan ketimbang manusia. Setannya ada dua puluh, manusianya ada dua pun kadang tak utuh.

Lalu ibu menatap ke atas lemari pajangan besar;
"Lihat, rambut kuntilanak itu sampai nyengser ke lantai."

Aku pun ikut menemukan, hantu anak-anak berlari-larian di lorong antar kamar yang sesekali menatapku tanpa makna.

Lalu ayunan di taman pun tiba-tiba mengayun sendiri, rumah besar ini mendadak lebih hidup walaupun yang meramaikan sudah mati.

"Kau tahu, man?" Kata ibu, "Barangkali rumah kita tak punya hantu karena -jangankan untuk lari-larian dan main ayunan, atas lemari saja sudah penuh kardus."





-damankadar, 2015-

3 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger