Sok Ganteng

     Akhir-akhir ini aku dikejutkan oleh beberapa pandangan teman-temanku tentang bagaimana ternyata aku di pandangan dalam mereka. Ada yang berpandangan biasa saja, ada yang berpandangan jauh dari biasa di luar dugaan. Pandangan biasa saja aku dapatkan dari teman-teman sesama jenis kelamin (laki-laki), dan pandangan yang tak biasa kudapatkan dari teman-temanku dari pihak perempuan.

     Pada awalnya aku kurang bisa bercerita kepada pihak lawan jenis, apalagi menyangkut aib-aib pribadi. Pertama, dan faktor paling besar, adalah mungkin karena dalam naifku - aku ingin terlihat baik di depan mereka yang siapa tahu malah jadi pasanganku. Namun, beberapa kecemasan pikiranku akhir-akhir ini membuatku berpikir harus punya teman wanita untuk diajak bicara, dikarenakan, dari setiap teman laki-laki tak kudapatkan interaksi yang bagus dalam bertukar pikiran selain masalah mendapatkan perempuan belaka.

     Awalnya aku ragu menceritakan aib kepada lawan jenis, ditakutkan akan muncul anggapan-anggapan kurang baik yang menjurus kepada harkat dan martabat. Namun masalah itu kukesampingkan dulu, mengingat dulu guruku pernah berkata "Jangan cemas terlihat bodoh, cemaslah jika kau tak belajar apa-apa". Kata-kata ini singkat, sama singkatnya kepada pertimbangan-pertimbanganku mencegah kebodohan-kebodohan.

     Singkat cerita, aku bercerita kepada teman perempuanku tentang bagaimana aku terjebak dalam lebih dari dua kedekatan pdkt, atau dalam kata lain, mencoba bermain perasaan kepada beberapa wanita. Jika dalam sharing kepada laki-laki, aku pasti akan dapat pandangan biasa saja, toh mereka memang memposisikan diri dalam diriku, namun beda halnya saat masalah ini kuceritakan pada pihak yang lebih menghormati kaum sejenisnya, perempuan. Di mata temanku yang perempuan, aku langsung didakwa bersalah dengan pasal berlapis; Pasal Pemberian Harapan Palsu, Pasal Lelaki Mencla-Mencle, dan yang paling menyakitkan, Pasal Laki-laki Sok Ganteng.

     Ketiga pasal itu sejatinya bisa langsung men-cap martabatku ke tingkat paling rendah, namun  celakanya, tidak ada satupun tuduhan temanku itu yang dapat aku sangkal. "Loh, benar juga ya, ternyata aku seburuk itu" Batinku. Kebanggan diriku pada diriku dalam sekejap berubah menjadi iba, kesal, dan yang paling dalamnya, malu.

     Ajaibnya rasa malu ini membuatku sadar tanpa harus membantah, menyesal tapi bisa tertawa, dan lega tapi selalu kepikiran.

     Pada hal-hal yang kupandang biasa saja, bisa jadi hal yang tidak biasa jika dipandang oleh pihak lain. Pada hal-hal yang kuanggap menarik, bisa jadi hal itu memuakkan bagi pihak lain. Begitupun seterusnya. Perbedaan sudut pandang memunculkan bentuk-bentuk lain dalam sebuah permasalahan yang terlihat, jika seseorang hanya suka memandang pada posisinya sendiri, niscaya ia miskin dalam hal pengertian.

1 komentar:

Berthold Hanisch

Fantastic goods from you, man. I have understand your stuff previous to and you are just too magnificent. I actually like what you've acquired here, really like what you are saying and the way in which you say it. You make it entertaining and you still care for to keep it smart. I can't wait to read far more from you. This is actually a great website. gmail log in

Posting Komentar

Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip blog :

 

@Twitter :

 

Teman :

Templates by Nano Yulianto | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger